JAKARTA — Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia DPR RI Rahmad Handoyo menanggapi soal kebijakan pemerintah yang mengizinkan masyarakat melakukan perjalanan mudik pada bulan Ramadan dan Idul Fitri 2022.
Rahmat menyambut positif keputusan pemerintah yang mengijinkan mudik lebaran.
Namun, kebijakan ini jangan disambut secara berlebihan, karena berkaca dari kasus Covid-19 yang terjadi dibeberapa negara di Eropa. Dikatakan, sejumlah negara di Eropa yang tadinya sudah melandai, kembali meledak.
BACA JUGA:Potensi 80 Juta Orang Mudik pada Lebaran 2022, Kemenkes: Segera Vaksinasi Booster
“Tentu kita menyambut positif keputusan pemerintah yang mengizinkan mudik lebaran. Namun kebijakan ini jangan disambut secara berlebihan, masyarakat jangan bereuforia. Apalagi kalau menganggap pandemi sudah berakhir, itu salah besar,” kata Rahmad Handoyo kepada wartawan, Sabtu (26/3/2022).
Rahmat mengatakan, pandemi Covid-19 belum selesai dan masih harus hati-hati.
“Bukan kata pandemi belum selesai tapi kata WHO. Lembaga kesehatan dunia ini masih terus mewanti-wanti bahwa pandemi mash jauh dari selesai. Karena itu, asas kehati-hatian harus selalu dikedepankan,” ucapnya.
“Mungkin karena adanya tekanan publik, tekanan politik dan sosial budaya, banyak negara di Eropa yang melonggarkan aturan dan sangat terbuka. Bahkan ada yang tidak mewajibkan pemakaian masker di ruang publik, justru lihat lah sekarang, di sana terjadi ledakan. Ada yang kasus positif perhari hingga 200 ribu. Dan rumah sakit penuh kembali,” bebernya.
Menambahkan contoh lain, Rahmad mengejelaskan soal Korea Selatan. Di negara ginseng tersebut, saat ini telah menembus 10 juta kasus atau hampir 20 persen dari jumlah populasinya.
BACA JUGA:Pemerintah Bolehkan Mudik, Polri: Kita Akan Sesuaikan Aturan
Di mana Korea Selatan saat ini kasus positifnya tertinggi di dunia.
“Saya kira kasus di Eropa juga di Korea Selatan harus jadi perhatian kita bersama. Kita tentu tidak mau setelah melandai seperti saat ini kemudian meledak lagi. Karena itu kita harus berhati-hati,” urainya.
“Kita harapkan agar saat melakukan perjalanan mudik, masyarakat tetap menggunakan protokol kesehatan. Ini tidak boleh ditawar-tawar," pungkasnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)