Biaya Hidup Melejit, Harga Makanan Ringan di Jepang Melonjak 20%

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Senin 13 Juni 2022 20:09 WIB
Makanan Ringan (Foto: Thetravel)
Share :

Sedemikian tabunya hingga Yaokin, perusahaan yang membuat camilan populer itu, harus membuat iklan kampanye yang menjelaskan mengapa pihaknya harus menaikkan harga.

Tapi kenaikan harga itu memang tak bisa dihindari. Satu per satu, mulai dari mayones dan minuman kemasan, hingga bir, harganya kini jadi lebih mahal.

Menurut databank Teikoku, harga lebih dari 10.000 makanan akan naik - dengan rata-rata 13% kenaikan - tahun ini.

Dilema bank sentral

Dan oleh karenanya, Jepang menghadapi masalah yang sangat rumit: bank sentral di seluruh dunia telah merespons kenaikan harga dengan menaikkan suku bunganya secara bertahap untuk mengontrol inflasi.

Sementara bank sentral Jepang terus mempertahankan suku bunganya di titip terendah selama bertahun-tahun.

Selain kesenjangan suku bunga yang signifikan antara Jepang dan negara-negara lain, seperti AS, nilai tukar mata uang Jepang juga melemah tajam.

Nilai tukar yen terhadap dolar baru-baru ini merosot ke posisi terendah selama 20 tahun terakhir. Pelemahan yen berarti bahwa harga barang-barang impor - terutama minyak dan gas - lebih mahal lagi.

"Konsumen tak terbiasa dengan inflasi," kata Takeshi Niinami, bos Suntory Holdings, yang dikenal karena memproduksi whisky Jepang, seperti Yamazaki, Hibiki dan Hakushu, serta minuman non-alkohol seperti minuman mineral dan kopi.

Perusahaan itu baru-baru ini mengumumkan kenaikan harga sebagian besar produknya sejak Oktober silam, agar memberikan waktu untuk mendiskusikan kenaikan harga ini dengan distributornya.

Niinami menyebut ini sebagai krisis rantai pasokan global, yang disebabkan oleh pandemi dan karantina wilayah di China baru-baru ini.

"Secara keseluruhan sudah diterima. Tapi masih ada tantangan dari pengecer besar," katanya.

Salah satu alasan di balik upaya pemerintah Jepang mendorong inflasi adalah untuk mencoba mendorong upah lebih tinggi.

"Ada tekanan besar dari masyarakat dan pemerintah untuk menaikkan upah, tetapi kita perlu meningkatkan produktivitas," kata Niinami.

"Tetapi sulit untuk meningkatkan produktivitas secara tiba-tiba. Kami memiliki begitu banyak rekan dalam satu industri, jadi kami harus berkonsolidasi."

Niinami berkata Jepang juga perlu untuk berinvestasi di sektor baru, seperti inovasi ekonomi hijau atau layanan kesehatan untuk menstimulus ekonomi, serta menciptakan lapangan kerja baru untuk menaikkan gaji rata-rata. berharap pemerintah akan melakukan lebih banyak hal untuk menarik investor asing.

Tapi itu semua perlu waku dan penciptaan lapangan kerja adalah satu dari sekian banyak isu yang dihadapi Jepang selama beberapa dekade.

Satu-satunya berkah dari nilai tukar yen yang melemah, dalam jangka pendek akan ada lebih banyak wisatawan internasional masuk ke Jepang untuk membelanjakan uangnya di negara itu, kendati perbatasan baru mulai dibuka kembali setelah Covid.

(Taufik Fajar)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya