JAKARTA - Petani tebu mengaku mulai kesulitan untuk mendapatkan pupuk subsidi.
Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Soemitro Samadikoen.
"Pupuk subsidi ini kita lancar mendapatkan distribusi paling sampai sekitar tahun 2018-2019 semenjak 2019, 2020, 2021 ini hampir apalagi sekarang ini hampir sudah tidak mendapatkan lagi pupuk subsidi. Adanya pupuk non subsidi," kata Soemitro dalam program Market Review di IDX Channel, Senin (27/6/2022).
BACA JUGA:Sudah Tekan Biaya Produksi, Petani Gula Tetap Rugi
Dia menambahkan harga pupuk non subsidi sangat tidak stabil.
Dia sampai pernah melayangkan protes dengan kondisi tersebut.
"Pada saat kita ada pupuk subsidi, non subsidi ini dijual satu ton nya Rp3,8 juta atau Rp380 ribu per kilogram. Kalau kita pupuk memerlukan satu ton aja kalau subsidi Rp1,6 juta kalau non subsidi Rp3,8 juta gak apa-apa lah selisih sedikit," tambahnya.
Namun, saat ini pupuk subsidinya mulai dikurangi.
Dia mengungkapkan pupuk non subsidi pun jadi sulit ditemukan serta harganya pun menjadi tinggi.
"Begitu subsidinya dikurangi, non subsidi ini susah dicari juga, susah dicari harganyapun ini sesuai dengan bahan baku yang masih diimpor juga, untuk ZA ini kurang lebih sekitar Rp5,8 juta sampai di petani sekitar Rp6 juta, jadi kalau satu hektar dulunya itu 1,6 juta jadi 6 juta," ungkapnya.
Dia menyebut petani dituntut agar ada peningkatan produksi namun hal pokok yang petani butuhkan tidak dapat kelonggaran.
"Ini yang menjadi pertanyaan kami, kenapa di satu sisi kita harus ada peningkatan produksi, tapi di sisi yang lain, kebutuhan pokok yang harusnya mendapatkan kelonggaran dari pemerintah, ini kami cuma menerima janji saja," pungkasnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)