"Tetapi tahun depan pemerintah sudah harus memulai mempersiapkan psikologis masyarakat, bila perlu pertalite dihapus, karena daripada kepahitannya berulang," kata Yusuf.
Sehingga diharapkan bisa juga sudah mulai memahami harga psikologis untuk BBM. Karena menurut Yusuf Indonesia ini bukan negara yang kaya akan minyak, setiap tahun pemerintahan belanja minyak untuk masyarakat yang ditopang oleh APBN.
"Masyarakat harus bersiap, bahwa Indonesia bukan negara yang kaya minyak kita hanya punya 0,02% dari cadangan minyak dunia," lanjutnya.
Dia menambahkan, kondisi geopolitik bakal terus bergejolak yang bakal mengancam fluktuasi harga pangan maupun energi. Ketika harga Energi naik adanya dampak dari kondisi geopolitik tersebut, maka mau tidak mau APBN harus selalu siap sedia menghadapi kondisinya.
"Dalam jangka panjang tidak bisa ditunda, Kondisi Geopolitik bakal mengganggu ketahanan energi maupun ketahanan pangan kita, maka urusan energi ini harus dipercepat," lanjut Yusuf.
"Sebetulnya gampang saja, kalau harga internasional naik, ya tinggal dinaikn saja harga BBMnya, subsidi maupun non subsidi," pungkasnya.
(Taufik Fajar)