JAKARTA - Seorang influencer di media sosial (medsos) mulai berbagi informasi soal keseraman resesi global.
Dikutip dari video di akun seorang influencer TikTok bernama @aabelkarimi yang diunggah pada 7 Oktober 2022 lalu, dia mengatakan kalau ancaman resesi sudah mulai menghantui banyak negara.
"Tahun depan ekonomi gelap, Jokowi berpesan semua bersiap akan ada badai," ujarnya dalam video.
Bahkan dia menyebut berdasarkan data kalau di Inggris sampai sudah banyak gelandangan.
Dia pun menjelaskan soal apa yang sebenernya terjadi pada ekonomi di dunia.
BACA JUGA:Ancaman Resesi Global 2023, Sektor Logistik Ikut Menjerit
"Misalnya gini kalian yang capek jualan basreng setiap hari, cilok, fashion dan semua pergerakan ekonomi di sektor nyata harus mengalami hal pahit kalau sebenarnya uang yang muter di lantai bursa jauh lebih banyak dari yang muter di sektor riil," jelasnya.
Dia pun mengklaim kalau uang di Indonesia melimpah tapi tak jatuh ke bumi.
"Kenapa? ini karena sebagian besar uang tersedot ke pasar keuangan yang cikal bakalnya lahir dari perbankan," katanya.
"Secara konsep kan orang-orang nabung di bank nih, uangnya diputer untuk membiayai banyak usaha, nah bank ini mendapat keuntungan dari selisih bunga yang dipinjamkan," tambahnya.
Adapun dia mengatakan kalau perputaran uang di sektor riil tersebut sangat besar dan cepat sehingga bisa meledak.
"Maka lahirlah problem ekonomi yang istilahnya canggih, ada inflasi, stagflasi, resesi, depresi dan yang lainnya," bebernya.
Menurutnya, semua yang terjadi itu berawal dari bunga.
"Yang bikin gue termenung semua ini berawal dari bunga," ucapnya.
"Sesuatu yang oleh ajaran islam ditentang dan diharamkan," lanjutnya.
Dia menambahkan kalau apa yang diungkapkan adalah hasil dari pembelajaran dengan pakar ekonomi islam.
Sebelumnya, Presiden Bank Dunia David Malpass menyampaikan bahwa ekonomi global sangat dekat dengan resesi, karena inflasi tetap tinggi, suku bunga naik, dan beban utang yang meningkat menghantam negara-negara berkembang.
"Kami telah menurunkan perkiraan pertumbuhan 2023 kami dari 3,0% menjadi 1,9% untuk pertumbuhan global, itu sangat dekat dengan resesi dunia," kata Malpass pada konferensi pers selama pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia dikutip Antara pada Jumat (14/10/2022).
"Semua masalah yang diperhatikan orang, masalah inflasi, kenaikan suku bunga, dan pemutusan aliran modal ke negara berkembang sangat memukul orang miskin," tambahnya dengan menyoroti penumpukan utang negara-negara berkembang.
Dia menyebut resesi dunia bisa terjadi dalam keadaan tertentu.
(Zuhirna Wulan Dilla)