JAKARTA - Banyak orang rela membayar miliaran rupiah demi berkesempatan menjelajahi bangkai kapal Titanic dari dekat.
Dilansir BBC di Jakarta, Senin (24/10/2022), diketahui di wilayah perairan Samudra Atlantik Utara yang berombak, hampir 650 kilometer dari St Johns, Newfoundland, Kanada, sebuah kapal industri besar terombang-ambing dari sisi ke sisi.
Sepintas, lokasi di Atlantik Utara tampak biasa-biasa saja.
Namun, di sini salah satu peristiwa paling terkenal dan tragis dalam sejarah terjadi.
BACA JUGA:Melihat Bangkai Kapal Titanic Lebih Dekat, Rela Rogoh Kocek hingga Rp4 Miliar
Di titik itu, di kedalaman 3.800 meter di bawah permukaan laut, terdapat bangkai kapal Titanic yang tenggelam pada April 1912 setelah menabrak gunung es pada pelayaran perdananya.
CEO Ocean Gate, Stockton Rush, mencoba membuat penjelajahan laut secara massal dan komersil, situs kapal karam yang paling terkenal di dunia wajib diselami.
“Saya membaca sebuah artikel yang mengatakan ada tiga kata dalam bahasa Inggris yang dikenal di seluruh dunia. Ketiga kata itu adalah Coca-Cola, God, dan Titanic," katanya.
Di mana untuk mewujudkan mimpinya tentang Titanic, Rush harus membuat kapal selam jenis baru yang terbuat dari bahan ringan, agar bisa membawa hingga lima orang turun sampai ke titik kedalaman di mana bangkai Titanic berada.
Banyak yang mengira hal itu tidak mungkin dilakukan.
Tapi kini Rush berada di lokasi setelah berhasil mencapai bangkai kapal itu dengan kapal selam pada tahun lalu bersama banyak orang, termasuk awak kapal, staf Ocean Gate, ilmuwan, serta sekelompok kecil petualang spesialis misi.
Adapun masing-masing dari mereka membayar USD250 ribu atau setara Rp3,8 miliar, demi melihat Titanic dari dekat.
Selama di sana, mereka juga berkesempatan menjadi peneliti warga, yang membantu mengumpulkan gambar dan video keanekaragaman hayati di laut dalam.
Para petualang yang terlibat dalam misi ini adalah bankir Renata Rojas, pengusaha Oisin Fanning, produser Jaden Pan serta ahli kelautan Steve Ross, dan nahkoda kapal selam Scott Griffith.
“Saya bukan jutawan, saya menabung dalam waktu yang sangat lama. Saya mengorbankan banyak hal dalam hidup saya supaya bisa menjangkau Titanic," ujarnya.
"Saya tidak punya mobil, saya belum menikah, belum punya anak. Semua keputusan itu saya buat karena saya ingin pergi melihat Titanic," jelasnya.
Sementara bagi Ross, penyelaman ini menawarkan kesempatan langka untuk mempelajari ekosistem di laut dalam, dengan cara mengambil sampel air di sekitar lokasi bangkai kapal dan merekam keanekaragaman hayati menggunakan kameranya.
“Ada semacam perlombaan untuk memahami laut dalam, yang merupakan lingkungan paling besar di lautan, tapi paling kurang dieksplorasi. Perubahan di lautan memiliki dampak besar bagi seluruh dunia,” jelasnya.
Adapun kapal selam berpenumpang itu turun selama lebih dari dua jam ke dasar lautan, dari dalamnya, Ross mengamati keanekaragaman hayati yang ada melalui jendela kapal.
“Dalam perjalanan turun, kami melihat spesies mesopelagis yang menjadi bagian migrasi terbesar di Bumi," ucapnya.
"Setiap malam, komunitas besar dari spesies ini bermigrasi ke permukaan, lalu setiap pagi mereka kembali ke kedalaman 500 hingga 1.000 meter. Banyak di antaranya memiliki bioluminensi, jadi Anda bisa melihat pancaran cahaya di mana-mana," lanjutnya.
Lalu, ketika mencapai dasar laut, kapal selam itu mendarat di puing seluas 15 meter persegi, yang mengelilingi haluan dan buritan Titanic yang telah terpisah.
“Seketika kami berlima mengheningkan cipta,“ kata Pan.
”Hal pertama yang saya lihat adalah serpihan-serpihan batu bara. Itulah momen yang menghubungkan saya dengan para korban Titanic," tambahnya.
Adapun dari sisi kapal selam yang lain, Pan kemudian mendengar nahkoda Griffith.
Astaga, kita punya masalah," ucapnya mencontohkan.
“Ketika saya mendorong ke depan, salah satu kendalinya justru mendorong ke belakang,” jelas Griffith.
“Sekarang yang bisa saya lakukan hanyalah 360 (berputar)," tambahnya.
Sementara, di atas kapal di permukaan laut, Rush mempertimbangkan untuk memetakan ulang alat kendali Griffith.
“Ini tidak akan mudah,” katanya.
“Saya pikir kita tidak akan berhasil.
Kami berada 300 meter dari Titanic dan yang bisa kami lakukan hanya berputar-putar," lanjutnya.
Di mana untuk solusi yang didapat Rush sangat sederhana dengan menahan alat kendali dengan cara lain.
Setelah mengetahui bahwa belok kiri pada alat kendali ternyata menggerakkan kapal selam ke depan, dia menyimpulkan bahwa memutar alat kendali 90 derajat searah jarum jam akan memungkinkan kapal selam untuk maju.
Usai melewati ubin warna-warni, piring-piring, hingga sebuah wastafel di antara puing-puing itu, mereka mencapai tujuan tersebyt.
Terlihat haluan Titanic yang menjadi ikon romansa antara tokoh fiksi Jack dan Rose dalam film.
Mereka berswafoto. Setelah itu, sisa waktu di dasar laut dihabiskan untuk menjelajahi haluan dan puing-puing Titanic sebelum naik ke permukaan.
Sebagai informasi, mereka butuh waktu beberapa bulan untuk menganalisis data yang mereka kumpulkan dari video, tetapi misi itu terasa memuaskan bagi mereka.
Begitu keluar dari kapal selam itu dan kembali ke kapal laut, Rojas menyeka air matanya.
“Dulu saya merasa perlu melakukan ini untuk melengkapi hidup saya. Sekarang saya merasa lengkap," pungkasnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)