MALANG - Setengah bulan Ramadhan, perajin rebana di Malang masih juga kebanjiran pesanan. Pesanan bahkan masih terus dikerjakan hingga memasuki hari ke-20 di bulan Ramadhan atau tepat pada Selasa (11/4/2023).
Perajin rebana bernama Arief Priyadi masih tampak sibuk dibantu dua orang karyawannya.
BACA JUGA:
Pria berusia 35 tahun ini mulai memberikan polesan akhir ke rebana dari pesanan yang datang.
Dia pun terlihat beberapa kali memukul rebana sampai bunyinya tepat sesuai standar yang diinginkan.
Sedangkan dua orang pekerja lainnya mengerjakan pemasangan kulit sapi.
Sambil memasang kulit sapi, pekerjanya melakukan penyetelan secara seksama agar kencangnya kulit bisa menghasilkan bunyi yang bagus.
BACA JUGA:
Menurut Arief, pesanan rebana kali ini memang secara perhitungan masih sama banyaknya dibanding tahun lalu.
Tetapi khusus untuk tahun ini pesanan disebutnya lebih banyak datang dari pengadaan kelurahan - kelurahan dan juga sekolah-sekolah Paud dan Taman Kanak-kanak (TK).
"Tahun kemarin, cuma yang kemarin banyak pesanan dari jamaah, dari masjid-masjid, tahun ini pengadaan dari kelurahan-kelurahan, ada yang 21 set, ada yang 15 set, 10 set, termasuk yang banyak-banyak," ucap Arief Priyadi, ditemui MPI pagi ini.
Dia menyatakan pesanan itu memang telah datang jauh-jauh hari bahkan satu bulan sebelum Ramadhan dari konsumen di Malang raya.
Pengerjaan produksi rebana yang dikerjakannya merupakan bagian dari sisa pesanan yang masih belum dikerjakan, karena kewalahan banyaknya permintaan.
Total hingga sepuluh hari jelang lebaran, sudah ada sebanyak 50 set lebih rebana dalam satu bulan yang dikerjakannya, dengan terbanyak pemesanan merupakan rebana versi Habib Syech.
"Satu bulan sebelum puasa mengalami peningkatan, puncaknya sebelum Ramadan, pesannya sebelum Ramadan semua, persiapan buat Ramadan selesai Ramadan dikirim ke kelurahan semua, paling banyak pesan yang rebana satu set," tuturnya.
Namun perbedaan pada pemesanan kali ini disebutnya, banyak konsumen baru yang memilih produksi rebana buatannya dan pembuatan bedug yang juga dilayani Arief.
Meski demikian, dia tak menaikkan harga produksi ke para konsumen barunya itu.
"Harganya sama seperti tahun lalu, ada yang 247 biasa, yang bagus 350 standar rebana, itu harga satu rebananya. Kalau satu set 2,7 - 3,5 juta versi Habib Syech itu 9 alat satu set, yang versi Banjari Rp 1,950 juta, itu satu setnya 5 alat, empat rebana, satu bass," ungkapnya.
Harga itu merupakan satu set rebana dengan ukuran standar yakni lebar 30 sentimeter, jika untuk anak-anak yang duduk di bangku Paud dan TK, biasanya ia membuat dengan ukuran lebih kecil yakni 25 sentimeter.
"Ada pesanan dari sekolah - sekolah Paud, TK, SD, yang versi mini itu untuk Paud dan TK, tapi yang lebih ramai yang besar, yang kecil jarang. Standarnya ukuran 30 sentimeter, untuk yang kecil versi anak-anak itu 25 sentimeter," bebernya.
Dia juga melayani pembuatan bedug baru atau sekedar memperbaiki, sejauh ini telah ada dua pesanan pembuatan bedug yang dikerjakannya dengan diameter lebar satu meter.
"Kalau bedug biasanya 12,5 juta itu ukuran satu meter, ngerjakan di sini, terus jadi dibawa ke lokasinya," tuturnya.
Selain pembuatan rebana dan bedug baru, Arief juga mengaku banyak menerima servis atau pemeliharaan rebana yang rusak.
Servis itu biasanya dipatok dengan tarif beragam tergantung tingkat kerusakannya.
"Tahun ini juga banyak melayani servis, ya hampir imbang servisnya sama pengerjaan barunya. Kalau untuk bedug yang paling sering servis, kalau buat baru jarang. Kalau servis biasanya kita lihat dulu (kerusakannya apa), (kalau) otomatis ganti kulit disetel lagi suaranya, kalau suaranya kendor dikencangkan lagi, ganti kulit," katanya.
Kini di tengah banyaknya pesanan rebana yang datang, tantangan Arief yakni susahnya mencari stok kayu berkualitas.
Biasanya dia menggunakan kayu nangka untuk membuat produk rebana berkualitas, tetapi karena memperoleh kayu nangka sulit dan harganya mahal, ia terpaksa menyiasatinya dengan kayu mahoni.
"Kalau untuk bunyinya (kayu) nangka sebenarnya yang bagus, dari pada mahoni. Tapi kayu nangka sulit, yang lagi ramai pakai kayu mahoni, biasanya dapat dari Jepara dan Kudus," paparnya.
Sementara untuk bahan baku lain seperti kulit, dia mengaku tak ada kendala.
Dirinya telah memiliki suplier terpercaya kulit sapi dari wilayah Blitar, Probolinggo, Jombang, hingga Salatiga.
Kini dia berharap agar bahan baku kayu utama produksi rebananya mudah didapat dengan harga yang terjangkau. Hal ini agar mengurangi beban ongkos produksi.
"Ya harapannya bahan baku mudah, produksi lancar, dan pemesanan datang terus. Apalagi ini Covid kan sudah reda, ini saja naik 30%, dibanding ketika Covid itu," tukasnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)