Perajin Rebana Kebanjiran Pesanan Jelang Lebaran 2023, Raup Untung Besar

Avirista Midaada, Jurnalis
Selasa 11 April 2023 09:44 WIB
Bisnis rebana jelang Lebaran 2023. (Foto: MPI)
Share :

Pengerjaan produksi rebana yang dikerjakannya merupakan bagian dari sisa pesanan yang masih belum dikerjakan, karena kewalahan banyaknya permintaan.

Total hingga sepuluh hari jelang lebaran, sudah ada sebanyak 50 set lebih rebana dalam satu bulan yang dikerjakannya, dengan terbanyak pemesanan merupakan rebana versi Habib Syech.

"Satu bulan sebelum puasa mengalami peningkatan, puncaknya sebelum Ramadan, pesannya sebelum Ramadan semua, persiapan buat Ramadan selesai Ramadan dikirim ke kelurahan semua, paling banyak pesan yang rebana satu set," tuturnya.

Namun perbedaan pada pemesanan kali ini disebutnya, banyak konsumen baru yang memilih produksi rebana buatannya dan pembuatan bedug yang juga dilayani Arief.

Meski demikian, dia tak menaikkan harga produksi ke para konsumen barunya itu.

"Harganya sama seperti tahun lalu, ada yang 247 biasa, yang bagus 350 standar rebana, itu harga satu rebananya. Kalau satu set 2,7 - 3,5 juta versi Habib Syech itu 9 alat satu set, yang versi Banjari Rp 1,950 juta, itu satu setnya 5 alat, empat rebana, satu bass," ungkapnya.

Harga itu merupakan satu set rebana dengan ukuran standar yakni lebar 30 sentimeter, jika untuk anak-anak yang duduk di bangku Paud dan TK, biasanya ia membuat dengan ukuran lebih kecil yakni 25 sentimeter.

"Ada pesanan dari sekolah - sekolah Paud, TK, SD, yang versi mini itu untuk Paud dan TK, tapi yang lebih ramai yang besar, yang kecil jarang. Standarnya ukuran 30 sentimeter, untuk yang kecil versi anak-anak itu 25 sentimeter," bebernya.

Dia juga melayani pembuatan bedug baru atau sekedar memperbaiki, sejauh ini telah ada dua pesanan pembuatan bedug yang dikerjakannya dengan diameter lebar satu meter.

"Kalau bedug biasanya 12,5 juta itu ukuran satu meter, ngerjakan di sini, terus jadi dibawa ke lokasinya," tuturnya.

Selain pembuatan rebana dan bedug baru, Arief juga mengaku banyak menerima servis atau pemeliharaan rebana yang rusak.

Servis itu biasanya dipatok dengan tarif beragam tergantung tingkat kerusakannya.

"Tahun ini juga banyak melayani servis, ya hampir imbang servisnya sama pengerjaan barunya. Kalau untuk bedug yang paling sering servis, kalau buat baru jarang. Kalau servis biasanya kita lihat dulu (kerusakannya apa), (kalau) otomatis ganti kulit disetel lagi suaranya, kalau suaranya kendor dikencangkan lagi, ganti kulit," katanya.

Kini di tengah banyaknya pesanan rebana yang datang, tantangan Arief yakni susahnya mencari stok kayu berkualitas.

Biasanya dia menggunakan kayu nangka untuk membuat produk rebana berkualitas, tetapi karena memperoleh kayu nangka sulit dan harganya mahal, ia terpaksa menyiasatinya dengan kayu mahoni.

"Kalau untuk bunyinya (kayu) nangka sebenarnya yang bagus, dari pada mahoni. Tapi kayu nangka sulit, yang lagi ramai pakai kayu mahoni, biasanya dapat dari Jepara dan Kudus," paparnya.

Sementara untuk bahan baku lain seperti kulit, dia mengaku tak ada kendala.

Dirinya telah memiliki suplier terpercaya kulit sapi dari wilayah Blitar, Probolinggo, Jombang, hingga Salatiga.

Kini dia berharap agar bahan baku kayu utama produksi rebananya mudah didapat dengan harga yang terjangkau. Hal ini agar mengurangi beban ongkos produksi.

"Ya harapannya bahan baku mudah, produksi lancar, dan pemesanan datang terus. Apalagi ini Covid kan sudah reda, ini saja naik 30%, dibanding ketika Covid itu," tukasnya.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya