Silvia mengungkapkan, produsen cuanki ini mengerahkan kurang lebih 50 karyawan. Puluhan pegawai itu adalah warga kampung sekitar pabrik, dengan masing-masing memegang tugas untuk pengolahan aneka cuanki.
Beberapa jenis cuanki yang dibuat yakni cuanki geprek, cuanki lidah, lidah tahu, cuanki siomay, siomay mini, siomay kuncup, cuanki tahu, cuanki stik, batagor mini dan pilus cikur.
"Semua menggunakan bahan lokal dengan kualitas yang bagus. Begitu pula dengan ikan tenggiri yang kami gunakan. Tapi dibalik lancarnya produksi kami kerap mengalami hambatan untuk bahan dari ikan. Karena ikan yang digunakan bukan dari daerah Garut," katanya.
Sedangkan untuk hasil produksi, menurut Silvia, pabrik cuanki ini dalam sehari bisa menghasilkan sekitar 10 karung berbagai varian cuanki dengan menghabiskan 250kg tepung tapioka. Seperti diketahui, Kabupaten Garut memiliki banyak industri rumahan produsen cuanki.
Bukan hanya di wilayah Kecamatan Tarogong Kidul, pabrik cuanki ini ada juga di Kecamatan Cilawu dan Kecamatan Garut Kota. Bahkan 45 pengusaha cuanki di Kecamatan Garut Kota telah tergabung dalam Kampung Cuanki yang diresmikan oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum pada tahun 2022 lalu.
Setiap hari para pelaku usaha cuanki di Kampung Cuanki itu mampu memproduksi sebanyak 125.000 cuanki dengan jumlah pekerja 255 orang. Produksi cuanki mereka telah dikirim ke beberapa provinsi di Tanah Air bahkan luar negeri.
(Zuhirna Wulan Dilla)