Akun tersebut meneruskan bahwa divestasi saham 51% harus segera rampung, karena muncul isu bahwa Induk Vale di Amerika Serikat yakni Vale S.A tengah menjalin komunikasi dengan Arabia's Public Investment Fund (PIF) untuk mengakuisisi saham Vale di Indonesia.
“Melihat perkembangan teknologi saat ini, sangat wajar banyak negara yang tergiur dengan potensi nikel ke depan. Proses divestasi tidak bisa ditawar lagi, harus segera dieksekusi. Apalagi Indonesia adalah pemilik cadangan nikel terbesar di dunia,” tulisnya lagi.
Menurut akun tersebut, berjalannya hilirisasi industri nikel di Indonesia sudah tidak dapat ditawar lagi. Itu penting untuk mewujudkan mimpi Indonesia membangun ekosistem baterai kendaraan listrik, khususnya yang pabriknya ada di Indonesia.
“Dan yang paling penting dari terciptanya ekosistem bisnis yang diciptakan oleh hilirisasi industri nikel, apalagi kalau bukan terbukanya ribuan lapangan kerja baru,” tulisnya.
(Dani Jumadil Akhir)