JAKARTA - Calon Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) M Sarjito mengatakan, Indonesia memiliki posisi penting dalam produksi sejumlah mineral dan komoditas strategis dunia.
Namun, besarnya produksi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap perekonomian nasional.
Dalam paparannya pada uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test bersama DPR RI, disebutkan bahwa kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 12,22 persen pada 2022.
Namun, angka tersebut terus mengalami penurunan dalam tiga tahun berikutnya. Kontribusi sektor pertambangan tercatat sebesar 10,52 persen pada 2023, turun menjadi 9,15 persen pada 2024, dan kembali menyusut menjadi 8,75 persen pada 2025.
"Potensi kontribusi sektor mineral terhadap PDB sangat besar. Bisa kita lihat bersama bahwa mineral yang ada di Indonesia, terutama nikel, kita nomor 1 di dunia. Timah kita nomor dua, kobalt kita cukup besar, dan batu bara terbesar setelah China," ujarnya dalam paparan fit and proper test bersama Komisi XI DPR RI, Senin (24/8/2026).
Dia memaparkan, pada komoditas nikel, misalnya, kontribusi produksi Indonesia mencapai sekitar 67 persen dari produksi global. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Filipina yang sebesar 7 persen dan Rusia 5 persen.
Indonesia juga memiliki posisi penting dalam produksi timah dengan kontribusi sekitar 21 persen terhadap produksi global. Sementara pada komoditas kobalt, kontribusi Indonesia mencapai sekitar 14 persen, meski masih berada jauh dibawah Republik Demokratik Kongo yang mendominasi dengan 73 persen.