"Seperti strategi dalam menghadapi gejolak ekonomi, keuangan dan geopolitik global untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, untuk pengembangan sumber-sumber pembiayaan yang dapat mendukung upaya dunia dalam mengatasi perubahan iklim (sustainable finance)," ungkap Perry dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (12/9/2023).
Tak hanya itu, dirinya juga akan berfokus pada prinsip-prinsip yang perlu menjadi acuan dalam pengembangan uang digital yang diterbitkan oleh bank sentral (Central Bank Digital Currency).
"Termasuk pengembangan sistem pembayaran lintas batas (cross border payment)," tandas Perry.
Sebagai informasi, ACC-BIS beranggotakan 13 Gubernur Bank Sentral anggota BIS dari negara-negara di Asia-Pasifik, yaitu Australia, China, Hong Kong SAR, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
(Taufik Fajar)