Adapun berdasarkan data yang dipaparkan, sebanyak 40 persen responden memilih hotel untuk menginap disusul homestay sebesar 20 persen, rumah kerabat sebanyak 26,6 persen dan Villa atau resor sebesar 13,3 persen.
Sementara dari jenis transportasi yang digunakan, pengunjung menggunakan pesawat terbang sebanyak 60 persen, mobil sebesar 26,6 persen serta kendaraan motor sebanyak 6,6 persen dan transportasi lain sebesar 6,6 persen.
Dessy juga melaporkan, para pengunjung yang menonton perhelatan ini didominasi oleh wisatawan asal Nusa Tenggara Barat sebesar 46,6 persen, Jawa Tengah 13,3 persen, Jawa Barat 13,3 persen, disusul Banten 13,3 persen serta Bali 6,6 persen dan DKI Jakarta 6,6 persen.
Lebih lanjut, mayoritas penonton atau sebesar 90 persen juga diakuinya bakal berkunjung kembali ke Mandalika atau Lombok, NTB bukan hanya karena perhelatan MotoGP namun karena fasilitas yang membaik.
Pelaku UMKM, lanjut dia, mengalami peningkatan pendapatan sebesar 36,54 persen.
“Pelaku usaha setuju untuk kembali mengikuti perhelatan ini di masa depan. Para Pelaku usaha menyatakan bahwa MotoGP memberikan dampak yang baik bagi peningkatan omzet usaha,” imbuh Dessy.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengungkapkan bahwa wisatawan nusantara juga menginginkan agar gelaran balap motor kelas kaisar ini dapat digelar di destinasi wisata unggulan lainnya.
“Dan mereka ingin ini juga bisa diadakan di beberapa destinasi wisata unggulan lainnya dan beberapa catatan lainnya, mushola menjadi pekerjaan rumah bagi kita saat ini, karena tempatnya sedikit,” pungkasnya.
(Taufik Fajar)