Banjir Jakarta Bikin Mal Sepi, Penerbangan Delay hingga Perputaran Uang Macet Triliunan Rupiah

Feby Novalius, Jurnalis
Kamis 22 Januari 2026 19:15 WIB
Banjir yang terjadi sepanjang hari ini berdampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat. (Foto: Okezone.com/Niko Prayoga)
Share :

JAKARTA – Hujan deras yang melanda wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) menyebabkan banjir yang menggenangi sejumlah permukiman dan ruas jalan utama. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat hingga pukul 15.00 WIB terdapat 45 RT dan 22 ruas jalan yang tergenang.

Banjir yang terjadi sepanjang hari ini berdampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Jakarta, tetapi juga meluas ke daerah penyangga Ibu Kota, mengingat sebagian besar pekerja di Jakarta bermukim di kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

"Kerugian ekonomi terjadi di berbagai sektor seperti perdagangan atau ritel, di mana masyarakat yang khawatir ke luar rumah akibat informasi banjir yang merata, membuat berbagai pusat perdagangan seperti Tanah Abang, Mangga Dua, Glodok, Gunung Sahari, Kelapa Gading, dan mal, serta lain-lain sepi pengunjung," ungkap Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, kepada Okezone.com, Kamis (22/1/2026).

Selain itu, transportasi darat baik bus, angkot, taksi manual maupun taksi online turut sepi karena terjebak macet. Transportasi udara juga terdampak, dengan sebanyak 109 penerbangan mengalami delay dan 31 penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dialihkan mendarat ke bandara lain (divert).

"Layanan logistik, omzet hotel, restoran, kafe juga menurun akibat berkurangnya pengunjung. Termasuk berbagai destinasi wisata di Jakarta yang sepi seperti Ancol, TMII, Ragunan, dan Kota Tua," ujarnya.

Perputaran uang akibat banjir di wilayah Jabodetabek juga turun signifikan karena pergerakan warga yang terbatas. Kerugian infrastruktur yang dialami masyarakat juga cukup besar, mulai dari rumah, berbagai perabot rumah tangga, kerusakan mobil dan motor, dan lainnya. Infrastruktur pemerintah antara lain kerusakan jalan, drainase, marka jalan, dan fasilitas umum lainnya.

 

"Kerugian ekonomi akibat perputaran uang yang stagnan mencapai triliunan. Kita tidak dapat menyebutkan angkanya karena datanya sangat kompleks. Yang jelas, banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya sangat mempersempit aktivitas ekonomi dan bisnis yang tentu saja menekan daya beli dan otomatis akan menekan laju pertumbuhan ekonomi daerah," ujarnya.

Menurutnya, Pemprov DKI Jakarta harus mengambil langkah dan mitigasi agar masalah banjir ini tidak menghantui aktivitas masyarakat setiap musim penghujan. Di samping revitalisasi sungai serta perbaikan drainase dan gorong-gorong, modifikasi cuaca setiap tahun menjadi sesuatu yang urgen dilakukan pada puncak musim hujan.

"Terlalu mahal kerugian yang kita tanggung jika masalah banjir ini menjadi momok yang tidak bisa diselesaikan, karena di samping kerugian ekonomi dan infrastruktur, masalah kesehatan warga juga menjadi taruhan, apalagi sampai memakan korban jiwa," ujarnya.

Dunia usaha berharap di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung dan Rano Karno, masalah banjir ini dapat segera teratasi dengan berkolaborasi bersama pemerintah daerah Bodetabek. Jakarta bebas banjir memang sangat tidak mungkin, tetapi setidaknya jangan sampai mengganggu aktivitas masyarakat, ekonomi, dan bisnis yang membuat perputaran uang terhambat.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya