Di sisi lain, aktivitas pasar di Korea Selatan ditiadakan sehubungan dengan hari libur. Sementara itu, di sektor ekuitas, bursa saham di negara berkembang ikut anjlok hingga 1 persen, yang merupakan kejatuhan terdalam dalam kurun waktu lebih dari dua pekan terakhir.
Meluasnya eskalasi konflik di Iran ke area sekitarnya terbukti telah memukul berbagai lini industri, mulai dari sektor energi, logistik maritim, hingga penerbangan udara. Sebagai imbasnya, patokan harga minyak mentah jenis Brent sempat meroket ke titik puncaknya dalam setahun terakhir sebelum akhirnya sedikit mereda.
Pada saat yang sama, nilai emas dan dolar AS melambung tinggi akibat derasnya arus modal investor yang beralih ke aset-aset pelindung nilai.
Kondisi inilah yang pada akhirnya semakin merugikan nilai tukar di negara-negara berkembang sekaligus memantik kecemasan akan ancaman inflasi.
Seturut itu, perang yang kini berkecamuk berpotensi besar mengganggu stabilitas pasokan energi global, terutama setelah Iran menutup arus perdagangan di Selat Hormuz.
(Feby Novalius)