JAKARTA — Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengingatkan adanya risiko besar apabila defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diperlebar hingga 3 persen.
Menurutnya, semakin besar defisit anggaran, maka beban pembayaran cicilan utang dan bunga juga akan meningkat. Kondisi tersebut berpotensi membuat porsi utang terhadap anggaran semakin besar dan dapat membahayakan keberlanjutan fiskal nasional.
“Semakin besar defisit juga ada risikonya, yaitu pembayaran cicilan dan bunga makin tinggi. Jadi, persentase utang terhadap anggaran makin besar. Kalau utang makin besar, bisa maksimum 40 persen, bahkan mencapai 50 persen. Itu sangat berbahaya bagi keberlanjutan,” kata JK.
Meski demikian, ia menilai dalam kondisi ekonomi saat ini pemerintah sulit menjaga defisit tetap di bawah 3 persen, terutama jika harga minyak dunia naik sehingga subsidi energi ikut meningkat.
JK menilai kenaikan harga minyak dan beban subsidi akan membuat defisit semakin melebar. Dampaknya, ruang fiskal pemerintah untuk membiayai pembangunan menjadi semakin terbatas.
“Begitu defisit makin besar, kapasitas untuk pembangunan makin kecil. Itu harus diperbaiki,” ujarnya.
Baca Selengkapnya: JK Ingatkan Risiko Jika Defisit APBN Diubah di Atas 3 Persen PDB
(Feby Novalius)