JAKARTA – Monumen Nasional (Monas) bukan hanya ikon sejarah dan wisata, tetapi juga menyumbang kontribusi ekonomi nyata bagi Jakarta. Retribusi pengunjung yang terjangkau menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI Jakarta, yang digunakan untuk pemeliharaan fasilitas publik, pengembangan infrastruktur, dan peningkatan destinasi wisata, sekaligus mendorong ekonomi lokal melalui kunjungan wisatawan.
Kepala Pusat Data dan Informasi Pendapatan Bapenda Jakarta, Morris Danny, mengatakan bahwa sebagai destinasi wisata publik, Monas menerapkan tarif masuk yang terjangkau bagi masyarakat. Retribusi yang dibayarkan pengunjung menjadi bagian dari penerimaan daerah yang dikelola secara akuntabel oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
"Penerimaan dari retribusi jasa usaha tersebut berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang digunakan untuk mendukung pembiayaan layanan publik, pemeliharaan fasilitas umum, peningkatan infrastruktur, serta pengembangan destinasi wisata yang lebih baik dan nyaman," ujarnya, Selasa (17/3/2026).
Dengan demikian, setiap kunjungan ke Monas tidak hanya bermakna sebagai aktivitas rekreasi dan edukasi, tetapi juga sebagai bentuk partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung pembangunan kota.
"Kontribusi tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaga warisan sejarah sekaligus memperkuat kualitas layanan publik di Jakarta," tambahnya.
Sebagai salah satu landmark paling ikonik di Indonesia, Monas tidak hanya menjadi destinasi rekreasi, tetapi juga pusat edukasi sejarah dan penguatan nilai nasionalisme. Setiap sudut kawasan ini menyimpan makna tentang identitas, perjuangan, dan kebanggaan bangsa.
Monas pertama kali dicetuskan oleh Soekarno pada tahun 1954. Monumen ini dirancang sebagai simbol perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan.