JAKARTA - Edukasi ke masyarakat mengenai aset kripto menjadi penting. Sebab, aset kripto menjadi salah satu instrumen investasi digital. Hal ini dilakukan di tengah meningkatnya kepercayaan publik terhadap berbagai institusi dan layanan keuangan di Indonesia.
"Edukasi menjadi fondasi penting dalam perkembangan industri kripto. Melalui Indodax Academy, kami mendorong peningkatan pemahaman masyarakat agar mampu menerapkan manajemen risiko yang disiplin dan mengambil keputusan investasi yang lebih bijak," ucap Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026).
Seiring dengan pertumbuhan industri, Indodax terus memperkuat posisinya melalui pengembangan fitur, peningkatan sistem keamanan, serta kolaborasi dengan berbagai mitra di sektor keuangan digital guna memastikan layanan yang andal dan perlindungan optimal bagi member.
Dengan lebih dari 9,8 juta pengguna, Indodax yang meraih dua penghargaan Most Trusted Financial Brand Awards 2026 ini secara konsisten mendorong literasi aset digital, kripto, dan teknologi blockchain di Indonesia sejak berdiri pada 2014. Upaya ini diwujudkan melalui Indodax Academy, kanal edukasi yang menghadirkan berbagai materi seputar blockchain, Bitcoin, mining, hingga aset kripto lainnya.
"Sebagai pionir crypto exchange di Indonesia, penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menjaga kepercayaan publik. Indodax akan terus berfokus pada penguatan sistem keamanan, peningkatan kualitas layanan, serta mendorong pengembangan ekosistem kripto yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia," tegas Aloysia.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi menyampaikan bahwa nilai transaksi aset kripto tercatat mencapai Rp29,24 triliun sepanjang Januari 2026.
Ia mengatakan, nilai tersebut turun 10,53 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dibandingkan capaian pada Desember 2025 sebesar Rp32,68 triliun. Tidak hanya aset kripto, nilai transaksi derivatif aset keuangan digital juga turun 6,88 persen mtm menjadi Rp8,01 triliun pada Januari 2026.
“Tentu ini sejalan dengan tren penurunan harga sejumlah aset kripto utama di kawasan global,” ujar Hasan Fawzi di Jakarta, Selasa 3 Maret 2026.
Meskipun demikian, ia menilai kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital di Indonesia, termasuk aset kripto, masih terjaga dengan baik.
Hal tersebut ditandai oleh jumlah konsumen pedagang aset keuangan digital yang berada dalam tren peningkatan, yaitu mencapai 20,70 juta konsumen pada Januari 2026, atau tumbuh 2,56 persen mtm dibandingkan Desember 2025 yang sebanyak 20,19 juta konsumen.
OJK juga mencatat terdapat 1.457 aset kripto dan 127 derivatif aset keuangan digital yang dapat diperdagangkan di Indonesia per Februari 2026.
Hasan menyatakan, pihaknya telah menyetujui perizinan 29 entitas dalam ekosistem perdagangan aset kripto, terdiri dari satu bursa kripto, satu lembaga kliring penjaminan dan penyelesaian, dua pengelola tempat penyimpanan (kustodian), dan 25 pedagang aset keuangan digital.
(Dani Jumadil Akhir)