Kedua, potensi meningkatnya biaya pinjaman dan keluarnya modal. Ketika persepsi global terhadap suatu negara melemah atau bahkan tidak terbentuk, risiko dianggap lebih tinggi, yang berujung pada biaya pendanaan yang lebih mahal.
Ketiga, melemahnya posisi tawar geopolitik. Krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah mulai mendorong negara-negara ASEAN bernegosiasi dari posisi lebih lemah, khususnya terhadap China di kawasan Laut China Selatan. Pergeseran ini berpotensi berdampak pada stabilitas wilayah strategis Indonesia, termasuk Natuna.
Keempat, hilangnya momentum dalam kompetisi global berbasis narasi. Dalam dunia yang semakin kompetitif secara persepsi, negara yang tidak terlihat akan tertinggal dari negara lain yang lebih aktif membangun pengaruh, bahkan dalam situasi konflik.
Sebagai perbandingan, Iran tetap menjadi bagian dari percakapan global meski berada dalam konflik besar. Sementara Indonesia, dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan ekonomi yang stabil, belum muncul sebagai aktor penting dalam narasi global.
Laporan tersebut juga menyoroti kondisi yang disebut sebagai Keynesian Triple Squeeze, yakni tekanan simultan pada tiga pilar utama ekonomi: lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas.
“Kondisi ini berbeda dari krisis sebelumnya karena tidak ada sektor yang benar-benar bisa menjadi penyangga,” ungkap Emaridial.
Di sisi lain, Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan yang diakui global, seperti keberhasilan dalam penghimpunan pajak ekonomi digital yang menempatkan Indonesia di tiga besar dunia, serta program Makan Bergizi Gratis sebagai investasi besar dalam pembangunan sumber daya manusia.
Namun, keunggulan tersebut dinilai belum dikomunikasikan secara efektif ke tingkat global.
“Di era sekarang, narasi bukan pelengkap, tetapi penentu arah ekonomi. Jika sebuah negara tidak mendefinisikan dirinya sendiri, maka dunia tidak akan melihatnya sebagai aktor penting,” tegasnya.
Laporan yang menggunakan pendekatan Global Trust Intelligence (GTI)—menggabungkan international marketing, neurosains, ketahanan non-militer, dan ekonomi Keynesian—ini menegaskan bahwa Indonesia kini berada di persimpangan penting.
Indonesia dihadapkan pada pilihan: tetap menjadi penonton dalam percakapan global, atau mulai membangun posisi sebagai aktor yang diperhitungkan. Sebab dalam sistem global saat ini, yang tidak terlihat berisiko untuk tidak dianggap ada.
(Taufik Fajar)