"Kalau perangnya masih menggunakan misil, kemudian Iran masih menutup Selat Hormuz, ini akan membuat transportasi minyak tersendat sehingga harga minyak naik, dolar menguat, dan berdampak terhadap inflasi," papar Ibrahim.
Selain Timur Tengah, ketegangan baru muncul setelah intelijen AS mendeteksi adanya pengiriman persenjataan dari Tiongkok ke Iran. Trump telah mengecam tindakan tersebut, yang memicu "perang urat saraf" antara kedua negara berkekuatan ekonomi terbesar dunia itu. Kondisi ini diprediksi akan semakin mendongkrak harga logam mulia.
Di internal AS, kepemimpinan baru di bank sentral juga menjadi perhatian. Ibrahim menilai penunjukan Christopher Waller (Captain Walls) yang akan segera menduduki jabatan Gubernur Bank Indonesia (sic—merujuk pada otoritas moneter/The Fed dalam konteks Trump) memberikan sinyal harapan baru bagi pasar.
"Keputusan Trump untuk memilih Kapten Walls berarti sudah ada kerja sama dengan Trump untuk menurunkan suku bunga. Sehingga ini berdampak positif terhadap kenaikan harga emas dunia dan logam mulia," ungkapnya.
Ibrahim juga menyoroti fenomena bank sentral global yang mulai beralih memburu logam mulia sebagai alternatif cadangan devisa. Hal ini didorong oleh persepsi bahwa "Perang Dunia Ketiga" secara faktual sudah berjalan dengan keterlibatan negara-negara besar secara langsung.
Kondisi ini memicu masalah ekonomi global yang serius, ditandai dengan kenaikan harga gasolin di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika hingga Asia.
(Taufik Fajar)