JAKARTA – Nilai tukar Rupiah diproyeksikan masih berada dalam jeratan tren pelemahan yang kuat dan berisiko terus meluncur mendekati level psikologis baru Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Jumat (29/5/2026). Performa loyo ini mengonfirmasi penutupan rapor merah mata uang Garuda di pasar offshore pada perdagangan Kamis (28/5/2026) kemarin.
Merujuk data dari Bloomberg, pergerakan kurs Rupiah sebenarnya sempat mengukir penguatan tipis sebesar 0,18 persen ke level Rp17.813 per Dolar AS.
Namun, respons positif tersebut tidak bertahan lama. Hanya dalam beberapa menit sejak perdagangan dibuka, posisi mata uang domestik langsung berbalik arah dan jatuh mendekati area resistansi atas, tepatnya bertengger di posisi Rp17.869 per Dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mencermati bahwa potensi kejatuhan Rupiah menuju level Rp18.000 per Dolar AS kian terbuka lebar pasca-pembusukan nilai tukar di pasar offshore. Menurut analisisnya, eskalasi militer di Timur Tengah menjadi dirigen utama yang memicu kepanikan global, sehingga arus modal dunia berbondong-bondong memburu aset aman (safe haven) dan melambungkan indeks Dolar AS.
Ketegangan di ring satu geopolitik meningkat pasca-serangan udara Amerika Serikat ke sejumlah fasilitas penting di Iran, yang diprediksi memicu aksi balasan yang jauh lebih masif dari Teheran.
“Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur meningkat tajam. Ini yang membuat dolar kembali menguat dan menekan mata uang emerging market termasuk rupiah,” jelas Ibrahim dalam analisisnya, dikutip Jumat (29/5/2026).
Gejolak perang ini juga membawa risiko nyata berupa disrupsi logistik dan distribusi energi di Selat Hormuz, yang berdampak langsung pada meroketnya harga komoditas energi global. Harga minyak mentah jenis WTI dilaporkan telah merangkak naik mendekati level 96 Dolar AS per barel.