Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Level Rp17.744 per Dolar AS

Anggie Ariesta , Jurnalis-Senin, 25 Mei 2026 |15:41 WIB
Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Level Rp17.744 per Dolar AS
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 27 poin atau sekitar 0,15 persen ke level Rp17.744 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin (25/5/2026).

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen eksternal saat ini sebenarnya dipengaruhi oleh dua sisi mata uang, baik yang bersifat mendinginkan tensi pasar maupun yang memicu kekhawatiran baru. Di satu sisi, pasar sempat merespons positif sinyal damai di Timur Tengah yang ditiupkan oleh Donald Trump.

“Yang positifnya itu adalah pasar ini optimis bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan perdamaian. Walaupun ya masih ada perselisihan mengenai isu-isu kunci tentang Blokade Slut Hormuz. Nah sebelumnya di hari Sabtu, Donald Trump ini mengatakan bahwa Washington dan Iran ini sebagian besar negosiasinya itu kemungkinan akan disepakati yang diperakasai oleh Pakistan,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Namun, Ibrahim mengingatkan para pelaku pasar agar tidak terlalu naif dan terburu-buru merayakan draf perdamaian tersebut.

Menurut analisisnya, terdapat ganjalan struktural yang sangat sensitif yang berisiko besar membalikkan keadaan dan memicu kegagalan total pada kesepakatan geopolitik tersebut.

"Nah tetapi kita harus ingat juga bahwa apakah notak kesepakaman ini akan ditatangani? Tidak. Karena yang lebih penting itu adalah tentang masalah Uranium. Kemudian yang kedua tentang masalah dana yang dibekukan dari tahun 70-an. Ya ini pun juga cukup menarik dan saya kemungkinan besar beranggapan bahwa perdamaian ini kemungkinan besar akan gagal total," jelas Ibrahim.

Faktor eksternal lain yang memperparah tekanan terhadap Rupiah adalah beralihnya ekspektasi pasar mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed). Jajaran petinggi Federal Reserve dilaporkan mulai kompak menyuarakan sinyal pengetatan moneter (hawkish) apabila indikator inflasi di Negeri Paman Sam tidak kunjung menjinak mendekati target sasaran.

Tekanan psikologis bagi instrumen mata uang negara berkembang diprediksi akan semakin pekat sepanjang pekan ini, mengingat pasar sedang bersiap menanti rilis data makroekonomi AS berskala besar.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement