Secara spesifik, lini bisnis yang paling terkoreksi adalah premi rangka kapal yang merosot sebesar Rp0,04 triliun atau turun 11,40 persen secara tahunan, premi energi onshore yang menyusut Rp0,03 triliun atau turun 17,00 persen YoY, serta premi energi offshore yang turun Rp0,01 triliun.
Meskipun pendapatan premi di lini usaha strategis tersebut mengalami kontraksi akibat faktor makro global, industri asuransi umum dan reasuransi secara akumulatif masih mampu mempertahankan efisiensi internalnya.
Berdasarkan data OJK pada periode yang sama (Maret 2026), kelompok industri asuransi umum dan reasuransi membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp4,22 triliun.
Angka tersebut mencatat pertumbuhan tipis, yaitu meningkat sekitar Rp0,08 triliun dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
(Feby Novalius)