JAKARTA - Fenomena blackout di Sumatera beberapa waktu lalu perlu dilihat secara proporsional karena gangguan sistem kelistrikan berskala besar juga pernah terjadi di sejumlah negara maju. Blackout besar pernah terjadi di Australia Selatan pada 2016 yang dipicu cuaca ekstrem hingga menyebabkan gangguan beruntun pada jaringan transmisi.
Inggris juga pernah mengalami gangguan sistem kelistrikan pada 2019 yang memicu pemadaman luas dan mengganggu transportasi publik. Bahkan belum lama ini, Spanyol dan Portugal juga mengalami gangguan kelistrikan berskala besar yang memerlukan proses penormalan sistem secara bertahap.
Menurut Pengamat Energi Sofyano Zakaria, dalam sistem interkoneksi besar seperti Sumatera, gangguan pada jaringan transmisi akibat cuaca ekstrem memang dapat berdampak luas terhadap kestabilan pasokan listrik sehingga proses pengamanan dan penormalan sistem perlu dilakukan secara hati-hati dan terkoordinasi.
“Yang terpenting adalah bagaimana proses penanganan dan penormalan sistem dilakukan secara terkoordinasi agar sistem kembali stabil,” katanya, Rabu (27/5/2026).
Ia menilai dalam sistem interkoneksi besar, proses pengembalian sistem tidak dapat dilakukan secara instan karena operator harus memastikan frekuensi, tegangan, dan pasokan listrik berada pada kondisi aman sebelum seluruh jaringan dinormalkan sepenuhnya.
Karena itu, fokus utama pemerintah dan pemangku kepentingan sektor ketenagalistrikan saat ini sebaiknya diarahkan pada percepatan penguatan sistem kelistrikan nasional agar kejadian serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.
Ke depan, pengembangan backbone kelistrikan Sumatera menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan sistem listrik nasional, terutama melalui penguatan jaringan transmisi 500 kV, 275 kV, hingga pengembangan jaringan 150 kV yang telah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
“Penguatan backbone Sumatera akan menjadi fondasi penting dalam menciptakan sistem kelistrikan yang lebih terintegrasi dari Aceh hingga Lampung. Selain itu, pengembangan pembangkit fast response, modernisasi sistem proteksi, serta pemeliharaan berbasis digital dan prediktif juga menjadi langkah penting untuk memperkuat stabilitas sistem,” jelasnya.
(Feby Novalius)