IHSG Pekan Ini Diprediksi Bakal Uji Area Support di 5.700–5.800

Anggie Ariesta, Jurnalis
Senin 29 Juni 2026 08:48 WIB
IHSG Hari Ini (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih dibayangi oleh tren turun (downtrend) jangka menengah, dengan potensi kuat untuk menguji area ambang bawah (support) baru.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari mengatakan, secara teknikal posisi penutupan indeks yang masih bertengger di bawah garis rata-rata bergerak MA5, MA10, dan MA20 menunjukkan indikasi pemulihan yang masih rapuh. Kondisi ini diperberat oleh pelemahan histogram positif pada indikator MACD serta pergerakan Stochastic RSI yang mulai terbatas di area pivot.

"IHSG berpeluang menguji area support 5.700–5.800 pada pekan depan. Selama support tersebut mampu dipertahankan, pergerakan indeks diperkirakan masih akan berkonsolidasi dalam kisaran 5.500–6.400. Adapun konfirmasi pembalikan tren menjadi bullish baru akan terbentuk apabila IHSG mampu menutup perdagangan mingguan di atas level 6.452, sehingga setiap penguatan sebelum level tersebut tercapai masih dikategorikan sebagai relief rally," kata Brigita dalam analisisnya, Senin (29/6/2026).

Prediksi pelemahan lanjutan ini berkaca pada performa buruk bursa selama sepekan terakhir (22–26 Juni 2026), di mana IHSG ambles hingga 4,55 persen menuju level 5.896,134 dari posisi pekan sebelumnya di level 6.177. 

Kejatuhan ini berjalan selaras dengan menyusutnya nilai kapitalisasi pasar BEI sebesar 4,51 persen menjadi Rp10.302 triliun.

Koreksi tajam tersebut utamanya dipicu oleh aksi jual massal modal asing dengan catatan nilai jual bersih (net foreign sell) yang menembus Rp3,19 triliun di pasar reguler. 

 

Sentimen ini langsung memangkas rata-rata frekuensi transaksi harian bursa sebesar 22,95 persen menjadi 1,73 juta kali, serta menahan volume transaksi harian di angka 25,18 miliar lembar saham.

Dari sisi sektoral, saham-saham di sektor bahan baku (IDX BASIC) menjadi lini yang babak belur paling dalam setelah jatuh 12,81 persen. 

Sebaliknya, sektor kesehatan (IDX HEALTH) menguat 3,77 persen dan sektor konsumer primer (IDX NONCYC) naik 0,53 persen menjadi sektor defensif yang bertahan di zona hijau akibat adanya rotasi modal para pemodal lokal yang menguasai 61,40 persen aktivitas pasar.

Dari sisi global, volatilitas pergerakan indeks utama Wall Street (S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq) diperkirakan masih akan ikut mewarnai fluktuasi pasar domestik akibat adanya aksi rotasi sektor secara masif oleh investor internasional.

"Sentimen negatif dipicu oleh kekhawatiran melambatnya belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) menyusul laporan penundaan IPO OpenAI akibat volatilitas pasar yang langsung menyeret jatuh saham-saham cip utama seperti Micron, AMD, dan Intel, serta memicu aksi jual masif di bursa Asia dan Eropa termasuk koreksi harga komoditas logam," tegas Brigita.

Dampaknya, indeks Nasdaq jatuh hingga 4,6 persen dan S&P 500 melemah hampir 2 persen dalam sepekan terakhir. Sentimen ini kian dibayangi sikap waspada pasar pasca-pernyataan Presiden Fed Minneapolis, Neel Kashkari, yang mengisyaratkan potensi kenaikan suku bunga akibat kembali memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Memasuki pergantian bulan, pelaku pasar dalam negeri diproyeksikan bakal mengambil sikap cenderung menunggu dan mengamati (wait and see) terhadap rilis data makroekonomi semester pertama, mulai dari inflasi, neraca perdagangan, hingga arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia pada medio Juli mendatang.

Pemerintah sendiri berupaya menahan perlambatan ekonomi dengan meluncurkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun melalui delapan program insentif guna memulihkan daya beli masyarakat di paruh kedua tahun 2026. Langkah fiskal ini diimbangi dengan aksi penghematan anggaran yang ketat pada pos prioritas.

"Pemerintah juga memperkuat upaya konsolidasi fiskal melalui efisiensi anggaran, termasuk rencana pengurangan alokasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), penghematan subsidi energi, serta berbagai langkah reformasi kebijakan yang dinilai dapat memperbaiki persepsi terhadap kondisi fiscal Indonesia. Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati efektivitas implementasi kebijakan tersebut serta menunggu penilaian lanjutan dari lembaga pemeringkat kredit, sehingga arah arus modal asing diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan pasar domestik," pungkas Brigita.

Berikut rekomendasi IPOT untuk pekan ini.
1. Buy BBRI (Entry: 2.830-2.850, Target Price (TP): 3.030 dan Stop Loss (SL): 2.740).
2. Buy TLKM (Entry: 2.480, Target Price (TP): 2.760 dan Stop Loss (SL): 2.340).
3. Buy AADI (Entry: 8.050, Target Price (TP): 8.700 dan Stop Loss (SL): 7.750).
4. Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD).

(Taufik Fajar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya