Mendag Ungkap Penyebab Neraca Dagang RI Defisit Mei 2026

Rohman Wibowo, Jurnalis
Selasa 14 Juli 2026 15:18 WIB
Mendag (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Menteri Perdagangan Budi Santoso memberikan tanggapan terkait kondisi neraca perdagangan ekspor Indonesia yang mengalami defisit pada Mei 2026 sebesar 1,61 miliar dolar AS. Defisit bulanan tersebut dinilai sebagai anomali sementara yang dipicu oleh lonjakan nilai impor minyak dan gas bumi (migas).

Pemerintah meminta masyarakat tidak panik karena secara akumulasi tahunan kondisi perdagangan nasional sebenarnya masih berada dalam posisi yang aman.

Secara kumulatif, performa ekspor Indonesia sepanjang awal tahun ini menunjukkan tren pertumbuhan yang positif jika dibandingkan periode sebelumnya.

"Secara kumulatif, Januari-Mei 2026 kita surplus 4,03 miliar. Kemudian ekspornya juga naik 3,02% atau periode Januari–Mei 2026 mencapai US$115,36 miliar," ujar Mendag Budi Santoso saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Budi memaparkan secara rinci bahwa rapor merah pada bulan kelima tersebut utamanya terseret oleh tingginya nilai impor migas yang menyentuh angka 3,76 miliar dolar AS. Padahal, untuk sektor non-migas, Indonesia masih mencatatkan kinerja positif dengan torehan surplus sebesar 2,19 persen pada periode Januari-Februari 2026 secara perbandingan tahunan.

Faktor utama pembengkakan nilai impor ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal harga komoditas global, bukan karena konsumsi domestik yang berlebihan. Nilai impor membumbung tinggi karena harga minyak mentah dunia sempat melambung di atas 100 dolar AS per barel pada bulan April sebelumnya.

 

Kenaikan harga minyak dunia ini secara otomatis langsung mengerek nilai tagihan impor energi nasional meskipun volume fisik barang yang masuk ke tanah air sebenarnya berkurang. Kementerian Perdagangan optimistis fluktuasi harga energi ini segera mereda seiring dengan pergerakan tren pasar global terkini.

"Kenapa bisa defisit? Karena bulan April itu lagi tinggi-tingginya harganya. Padahal volume ekspornya, volume impornya sebenarnya turun. Volume impor migas dan non-migas itu lagi turun, tapi nilainya naik karena harga minyaknya lagi pas tinggi, di atas 100 dolar AS per barel lebih gitu. Nah, mudah-mudahan Juli bisa membaik lagi karena kalau saya lihat grafiknya kan sudah mulai turun," kata Budi.

(Taufik Fajar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya