BPDP: Industri Sawit Jadi Tumpuan Hidup Lebih dari 16 Juta Rakyat Indonesia

Rohman Wibowo, Jurnalis
Senin 20 Juli 2026 19:08 WIB
Industri Sawit (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit menegaskan bahwa sektor kelapa sawit memegang peranan krusial bagi perekonomian nasional. Selain menjadi instrumen pembangunan dan penyumbang devisa, industri ini telah terbukti menjadi sumber penghidupan utama bagi jutaan masyarakat.

Direktur Utama BPDP Kelapa Sawit, Eddy Abdurrachman, menyebutkan bahwa kontribusi sektor ini meluas di sepanjang rantai nilai industri. 

"Sawit bukan sekadar komoditas ekspor, melainkan sebagai salah satu instrumen pembangunan nasional. Sawit berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan energi, mendukung pembangunan industri hilir, menjadi sumber penerimaan devisa, serta menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 16 juta rakyat Indonesia yang terlibat di sepanjang rantai nilai industri sawit," ujar Eddy dalam acara Pekan Riset Sawit Indonesia 2026, Senin (20/7/2026).

Besarnya ketergantungan masyarakat terhadap sektor ini juga terlihat dari struktur kepemilikan lahan perkebunan. Saat ini, sekitar 41 persen luas perkebunan sawit di tanah air dikelola langsung oleh petani atau pekebun rakyat, sehingga masa depan industri ini sangat bergantung pada kesejahteraan mereka.

Menurut Eddy, keunggulan Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia tidak boleh membuat industri berpuas diri. Transformasi berbasis inovasi dan teknologi menjadi kunci utama dalam menghadapi tuntutan global seperti perubahan iklim dan ekonomi sirkular.

"Kami meyakini bahwa sektor kelapa sawit memiliki posisi yang sangat strategis di dalam mewujudkan agenda pembangunan nasional. Kami meyakini bahwa riset bukan sekadar biaya, melainkan investasi strategis bangsa," tegasnya.

 

BPDP pun, kata Eddy terus mendorong peningkatan produktivitas melalui penerapan Precision Agriculture, mekanisasi, hingga penggunaan benih unggul. Langkah ini diambil agar petani dapat meningkatkan hasil panen secara signifikan tanpa perlu melakukan ekspansi lahan yang berisiko mengganggu ekosistem lingkungan.

Eddy menambahkan soal tantangan ke depan tidak lagi diukur dari seberapa luas lahan, melainkan dari kemampuan menghasilkan nilai tambah. "Ke depan keberhasilan industri sawit Indonesia tidak lagi ditentukan oleh seberapa luas lahan yang kita miliki. Keberhasilan akan ditentukan oleh kemampuan kita untuk meningkatkan produktivitas dan di sinilah tantangan terbesar kita," tutur Eddy.

(Taufik Fajar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya