Kondisi tersebut membuat rute menuju Lampung menjadi yang paling rawan karena lokasinya berjarak kurang dari 150 kilometer dari kawah aktif. Rute padat menuju Batam dan Pontianak, serta penerbangan ke arah selatan dan barat Jakarta, juga berpotensi terdampak.
“Penundaan dan holding selama 60 hingga 120 menit menjadi dampak paling dominan di CGK, sementara rute domestik ke Sumatera bagian selatan serta rute internasional ke Australia terpaksa dialihkan memutar lewat utara Jawa dengan tambahan waktu terbang 20-40 menit. Jika status Siaga dan kode Oranye bertahan, sebanyak 15-25 persen penerbangan dari CGK dan 40-60 persen dari TKG berpotensi terganggu,” jelas Bayu.
Kerugian terbesar maskapai bersumber dari hilangnya 50-60 persen potensi pendapatan akibat pengembalian dana (refund) tiket, sementara biaya sewa (leasing) armada dan beban gaji awak pesawat tetap berjalan.
Selain menanggung fasilitas makan dan hotel untuk penumpang yang mengalami keterlambatan lebih dari empat jam, maskapai juga dibebani biaya perawatan mesin yang sangat mahal apabila pesawat sempat terpapar partikel abu vulkanis.
“Pesawat yang melintasi area abu wajib menjalani borescope check dengan biaya USD20.000 hingga USD50.000 per mesin. Meski saat ini masih terkendali di tingkat operasional darurat (IROP), jika gangguan abu berlangsung lebih dari lima hari, kerugian ekonomi akan melampaui Rp100 miliar dan menggerus target kuartal III dan IV. Kecepatan data VAAC dan fleksibilitas AirNav menjadi kunci mitigasi,” urai Bayu.
(Feby Novalius)