Dia menyebut penerapan metode tersebut telah menunjukkan hasil produksi sekitar 8-13 ton, dengan rata-rata mencapai 10 ton. Sementara pada lahan yang memiliki sumber air, pemerintah akan memperkuat pasokan melalui pompa.
Amran juga memastikan ketersediaan beras masih mencukupi meski Indonesia menghadapi El Nino. Perhitungan tersebut antara lain memperhitungkan standing crop atau tanaman yang saat ini masih berada di lahan, serta stok beras yang tersedia di masyarakat dan Bulog.
"Standing crop adalah kurang lebih 3 hampir 4 juta, 3,8 juta. Standing crop artinya yang tanaman berdiri sekarang. Kemudian, ada beras di hotel, mereka hotel, restoran, dan rumah-rumah seluruh Indonesia," tuturnya.
Di samping itu, Amran menyebut stok beras di Bulog mencapai sekitar 2,6 juta ton. Dengan kebutuhan sekitar 2,6 juta ton per bulan, stok dan produksi yang ada dinilai masih mampu menopang kebutuhan hingga memasuki periode panen berikutnya.
"Kalau 2,6 juta per bulan, berarti 10 bulan kan? 10 bulan ke depan, sekarang September ya? Oktober, November, Desember, Januari, Februari. Overlap. Panen puncak di Maret lagi. Jadi aman," tandasnya.
(Dani Jumadil Akhir)