Skema Bagi Hasil Ojol 92:8 Dinilai Berisiko, Ini Alasannya

Taufik Fajar, Jurnalis
Minggu 18 Oktober 2026 06:18 WIB
Ojol (Foto: Okezone)
Share :

Padahal, di tengah situasi daya beli masyarakat yang tertekan oleh biaya hidup yang makin tinggi, keterjangkauan harga merupakan kunci utama luasnya adopsi ride-hailing di Asia Tenggara. Para analis memperingatkan bahwa tarif yang lebih tinggi dapat mendorong konsumen kelas menengah perkotaan kembali menggunakan kendaraan pribadi atau beralih ke moda transportasi informal.

Dampaknya bagi pengemudi pun menjadi dilematis. Berkurangnya jumlah pesanan pada akhirnya menyebabkan waktu tunggu pengemudi menjadi lebih lama, lebih banyak bahan bakar terbuang saat menunggu, dan total pendapatan harian justru menurun, meskipun pendapatan per pesanan terlihat lebih baik di atas kertas.

"Kebijakan ini hanya menyasar satu elemen pembentuk harga platform, bukannya hasil penghidupan yang betul-betul dipedulikan pengemudi, serta berisiko membawa lebih banyak dampak buruk daripada manfaat bagi pengemudi itu sendiri," tambahnya.

Potensi Perubahan Model Bisnis

Pandangan senada disampaikan oleh Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman. Ia menilai kebijakan pembatasan komisi sebaiknya tidak hanya berorientasi pada penurunan potongan bagi pengemudi, tetapi juga harus mempertimbangkan keberlangsungan bisnis aplikator, daya beli masyarakat, serta kepastian investasi di sektor ekonomi digital.

Menurut Rizal, pembatasan komisi memang akan mengurangi ruang pendapatan perusahaan, terutama dari layanan transportasi roda dua. Kendati demikian, dampaknya tidak serta-merta mengancam keberlangsungan bisnis apabila diterapkan secara proporsional.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya