JAKARTA - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara membidik ekspansi infrastruktur pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan (AI) di Tanah Air dengan proyeksi nilai ekonomi melampaui Rp30 triliun atau setara 1,7 miliar dolar AS.
Investasi strategis ini digadang-gadang bisa terealisasi melalui gelaran Danantara Technology, Innovation, and Investment Forum (DTIIF) yang dijadwalkan berlangsung pada 26-28 Oktober 2026 di Jakarta.
Pertemuan teknologi bertaraf internasional tersebut bakal dihadiri sedikitnya 1.500 peserta, termasuk 170 inovator global, lebih dari 100 pimpinan korporasi teknologi dunia, 60 hingga 70 pusat riset inovasi, serta lebih dari 50 perguruan tinggi terkemuka. Sejumlah raksasa teknologi (big tech) dari kawasan Silicon Valley hingga SpaceX dikabarkan turut ambil bagian, bersama peraih Nobel Ekonomi Peter Howitt.
Danantara menegaskan arah pembangunan pusat data nasional kini bertransformasi dari sekadar penyedia lahan fisik menjadi pemilik rantai nilai teknologi komputasi bernilai tambah tinggi. Perubahan model bisnis ini dirancang agar penerimaan ekonomi domestik tidak lagi terpaku pada porsi sewa infrastruktur dasar yang minim.
"Kalau kita hanya menyewakan lahan untuk setiap 100 megawatt hour data center, investasinya memang 3 sampai 4 miliar dolar AS tetapi pendapatan kita hanya sekitar 100 sampai 150 juta dolar AS. Namun jika kita ikut membangun lewat kemitraan strategis hingga penguasaan cip dan pengendali berbasis AI, penerimaannya bisa melesat menjadi 1,5 hingga 1,7 miliar dolar AS," ujar Chief Technology Officer (CTO) Danantara Sigit Puji Santosa dalam jumpa pers di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Sigit menjelaskan, soal kebutuhan terhadap pusat data modern saat ini telah bergeser dari fasilitas komputasi skala besar (hyperscale) konvensional menuju arsitektur mutakhir berbasis kecerdasan buatan. Untuk mengamankan pasokan komponen penting tersebut, Danantara telah mengunci kesepakatan aliansi teknologi strategis dengan pelaku industri semikonduktor internasional.
"Industri data center sangat sarat teknologi, dan kami sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan industri di Inggris, Arm, untuk mendukung pengembangan enam sektor industri prioritas. Kami juga mengamankan aliansi teknologi semikonduktor untuk kebutuhan cip dan pengendali yang saat ini antreannya di pasar global mencapai 16 hingga 48 bulan," kata Sigit.