Tekanan Harga Minyak, Geopolitik & Nasib Ekonomi

Opini, Jurnalis
Jum'at 23 Oktober 2026 15:31 WIB
Tekanan Harga Minyak, Geopolitik & Nasib Ekonomi (Foto: Eisha/Indef)
Share :

Jelas ada ketidakpastian geopolitik yang dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia. Kenaikan harga energi, tekanan pada biaya logistik, ongkos produksi, serta kondisi pasar keuangan global merupakan fakta yang harus dihadapi dengan kebijakan yang tepat. Di sektor riil, dampaknya signifikan dapat memberikan tekanan risiko Indonesia, pada kenaikan harga minyak, ketidakpastian pasokan fisik, ongkos logistik dan biaya produksi. 

Ketergantungan pada impor minyak mentah maupun BBM dapat berimplikasi pada biaya energi domestik, meskipun minyak yang dibeli Indonesia tidak seluruhnya berasal dari kawasan tersebut.

Defisit neraca perdangangan migas juga akan tertekan sehingga menekan nilai tukar rupiah, apalagi pasar modal tertekan karena evaluasi MSCI.  Ini kemudian meningkatkan biaya produksi dan distribusi, serta menggerus daya beli masyarakat. Untuk itu, pemerintah juga perlu mengantisipasi peningkatan beban subsidi energi yang dapat mempersempit ruang fiskal.

Indef sudah mengeluarkan buku Kajian Tengah Tahun INDEF 2026 bertajuk Menavigasi Guncangan Global: Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Geopolitik, Energi, dan Iklim. Buku ini mengukur dampak berbagai risiko global terhadap perekonomian nasional menggunakan model Computable General Equilibrium (CGE). 

Dalam skenario lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah, INDEF memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) berpotensi tertekan sebesar 0,21 persen. Ekspor diperkirakan melambat 2,44 persen, sementara upah riil turun 0,28 persen. Pada saat yang sama, inflasi meningkat 0,28 persen dan impor melonjak 7,8 persen.

Jadi, masalah geopolitik jelas akan terus menjadi faktor krusial ekonomi Indonesia. Konflik di Timur Tengah yang menutup Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb memicu lonjakan harga minyak dunia; Indonesia kehilangan sekitar 25% sumber impor BBM, sehingga ICP naik ke kisaran USD105-106 per barel dan perbedaan antara BBM subsidi dan non-subsidinya menimbulkan pergeseran perilaku konsumen.

Simulasi INDEF menunjukkan guncangan energi dapat menekan pertumbuhan PDB sekitar 0,2%, menurunkan ekspor, meningkatkan inflasi serta impor migas, yang selanjutnya memperlebar defisit neraca perdagangan, menekan rupiah, dan menambah beban subsidi energi. 

Pertamina merespons dengan diversifikasi pasokan (Afrika, Amerika Serikat, dan wilayah lain) serta meningkatkan produksi dalam negeri. Pengembangkan bisnis rendah-karbon seperti biofuel, geothermal, surya, hidrogen hijau, dan SAF diarahkan untuk memperkuat stabilitas makro, reformasi subsidi secara bertahap, dan memperce transisi energi terbarukan.

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya