Share

Dugaan Perdagangan Tak Wajar LPPF Masih Diselidiki

Rheza Andhika Pamungkas, Okezone · Selasa 10 Agustus 2010 17:46 WIB
https: img.okezone.com content 2010 08 10 278 361688 c2obJ5Yt8U.jpg Papan Perdagangan IHSG. Foto: Astra Bonardo/Koran SI

JAKARTA - Pemeriksaan atas dugaan praktik perdagangan tak wajar saham PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) sudah masuk ke Biro Pemeriksaan dan Penyidikan.

Hal tersebut dikatakan Kepala Biro Transaksi dan Lembaga Efek Bapepam-LK Nurhaida, saat ditemui di sela acara HUT Pasar Modal ke-33, di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (10/8/2010).

"Kenaikan saham LPPF waktu itu terjadi dalam periode kurang dari sebulan. Dan kami sudah memanggil beberapa nasabah yang melakukan transaksi saham ini. Namun, ada beberapa nasabah yang sudah kami panggil tiga kali namun tidak juga datang namun kami juga tidak bisa memaksa mereka untuk datang," jelasnya.

Menurutnya, Bapepam juga akui sulit memaksa nasabah untuk mengakui apa motif transaksi sahamnya ini. Sebabnya ada yang melakukan pembelian saham menjelang penutupan pasar dengan harga yang tidak wajar (marking the close). Sedangkan nasabah hanya memberikan keterangan bahwa mereka menyukai saham ini saja.

Dikatakannya, sulit membuktikan apakah pembelian saham LPPF ini dilakukan dengan keinginan sendiri atau keinginan pihak tertentu. Misalnya, pembelian ini didanai oleh pihak lain yang menginginkan sahamnya menanjak dan Bapepam juga sudah memeriksa ini lebih dari tiga bulan.

"Sekarang sudah dimasukkan ke bironya Pak Sardjito (Biro Pemeriksaan dan Penyidikan). Sehingga untuk kelanjutan pemeriksaannya tanya dengan biro PP saja," ungkapnya.

Sekadar informasi, harga saham LPPF mulai merambat naik sejak akhir Oktober 2009 ketika PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) melepas aset Matahari Department Store ke LPPF. Harganya terus naik hingga akhir Januari 2010, saat MPPA mengumumkan kesepakatan penjualan saham LPPF kepada Meadow.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini