JAKARTA - Pertumbuhan kredit di Indonesia hingga saat ini belum pulih. Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo pun sempat khawatir dengan lambannya pertumbuhan kredit sejak awal tahun ini.
"Kita memperhatikan bahwa selama 1 Januari sampai 31 Juli memang kita khawatir dengan pertumbuhan kredit yang relatif rendah. Pertumbuhan Kredit itu di bulan Juli itu ada mungkin kira-kira 8%. Tetapi pertumbuhan kredit year to date itu mungkin cuma 3,1%. Jadi year to date itu kok pelan," kata Agus di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (28/8/2017).
Menurut Agus, perbankan masih terkendala dengan adanya kredit bermasalah. Hal inilah yang menghambat perbankan untuk mempercepat penyaluran kredit.
"Jadi yang kita perhatikan adalah perbankan agak pelan menyalurkan kredit karena dia punya kecendrungan kredit bermasalah yang meningkat. Kan kredit bermasalah di awal tahun 2017 itu ada di 2,4%. Naik ke 3% atau 2,9%. Terus kemudian kita tau bahwa relaksasi atau stimulus dari OJK akan tidak diteruskan itu berpotensi kepada meningkatnya kredit bermasalah," ujarnya.
Baca Juga: Revisi Pertumbuhan Kredit Jadi 8-10%, BI Sudah Pantau Business Plan Bank
Hanya saja, Agus meyakini bahwa hal ini tidak berada dalam range yang mengkhawatirkan. Namun, BI tetap menaruh perhatian pada penurunan permintaan kredit ini. "Tetapi kita juga tau bahwa pertumbuhan kredit yang pelan ini mungkin karena banyak dunia usaha yang masih ingin melihat bagaimana perkembangan harga komoditas. Kelihatannya harga komoditas di kuartal kedua 2017 ada sedikit koreksi menurun. Jadi mereka semua masih ingin menunggu," jelas Agus.
Namun, pada saat kredit diperbankan belum tumbuh sesuai harapan, pasar modal di Indonesia berhasil mengalami pertumbuhan positif. Hal ini merupakan bukti mulai membaiknya kepercayaan investor pada ekonomi Indonesia.
"Tetapi yang satu kita ingin menjadi jelas dalam rapat koordinasi tadi. Itu di 1 Januari sampai Juli itu pertumbuhan di non perbankan, di pasar modal itu tumbuh kira-kira Rp160 triliun. Dan Rp160 triliun itu, 55% adalah dalam bentuk obligasi korporasi. Kalau kreditnya perbankan belum terlalu tinggi, tetapi pertumbuhan pembiayaan alternatif di pasar modal itu baik. Jadi ini adalah kondisinya," ujarnya.
Baca Juga: Ketua OJK: Saya Yakin Suku Bunga Kredit Bisa Single Digit
BI pun berharap pihak perbankan dapat menurunkan suku bunga kredit agar dapat meningkatkan minat dari para investor untuk berinvestasi. Sebab, BI telah beberapa kali menurunkan suku bunga acuan.
"Tetapi tetap perlu kita perhatikan kondisi pertumbuhan kredit yang masih di bahwa double digit ini perlu kita sama-sama jaga untuk perbaiki. Nah Bank Indonesia bisa menurunkan 7 Day Reverse Repo Rate ini juga mengharapkan menjadi signal confidence kepada pasar bahwa memang sudah saatnya untuk ekspansi," ujarnya.
Saat ini 7 Day Repo Rate telah dipatok sebesar 4,5%. BI belum memastikan apakah nantinya akan kembali dilakukan penurunan suku bunga acuan.
"Belum karena sekarang posisi Bank Indonesia atas stance moneternya netral. Ya kita lihat saja nanti ke depan," ujarnya.
Jokowi pun berharap agar suku bunga kredit dapat turun. Dengan begitu, maka pertumbuhan permintaan kredit dapat meningkat. "Presiden hanya meyakinkan bahwa kita semua bersiap untuk memberikan pelayanan yang baik. Kita upayakan juga supaya tidak ada deposan-deposan yang saling bersaing minta supaya bunganya tinggi tinggi tinggi dan biasanya itu yang membuat bunga kredit juga susah turun. Jadi arahan-arahan yang umum. Tetapi OJK akan menindaklanjuti," ungkapnya.
Jika suku bunga kredit perbankan turun, diharapkan angka penyaluran kredit dapat meningkat. Diharapkan, pada tahun 2018 mendatang penyaluran kredit berada pada level 10 hingga 12%.
Seperti diketahui, BI beberapa waktu lalu telah melakukan revisi terhadap target pertumbuhan kredit. Saat ini, pertumbuhan kredit di Indonesia ditargetkan tumbuh pada level 8% hingga 10%.
"Jadi masih single digit seperti di tahun yang lalu. Tetapi kita harapkan di semester kedua 2017 pertumbuhan kredit akan lebih baik. Dan nanti 2018 pertumbuhan kredit antara 10 sampai 12% kembali," ungkapnya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.