Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

9 Bulan, Penyaluran Kredit Perbankan Rp4.569 Triliun

Koran SINDO , Jurnalis-Kamis, 02 November 2017 |11:10 WIB
9 Bulan, Penyaluran Kredit Perbankan Rp4.569 Triliun
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA – Penyaluran pertumbuhan kredit perbankan pada September 2017 tercatat sebesar Rp4.569,9 triliun atau naik 9,4% dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 8,4%.

Peningkatan pertumbuhan kredit perbankan terjadi pada seluruh jenis penggunanya. DirekturEksekutifDepartemen Komunikasi Bank Indonesia Agusman mengatakan, kredit modal kerja (KMK) per September 2017 tercatat sebesar Rp1.123 triliun atau tumbuh 9,6% lebih tinggi dibandingkan bulansebelumnya sebesar7,3%.

Baca juga: Gesek Ganda Kartu Kredit dan Debit Dilarang, Hero Integrasikan Sistemnya

“Sejalan dengan hal tersebut, kredit investasi (KI) juga turut mengalami peningkatan pertumbuhan dari 6,8% pada Agustus 2017 menjadi 7,1%,” kata Agusman di Jakarta kemarin.

Begitu juga dengan kredit konsumsi (KK) terakselerasi dari 10,2% pada Agustus 2017 menjadi 11% dengan nominal mencapai Rp1.325,5 triliun pada September 2017.

 Baca juga: Pengusaha: Data Transaksi Ritel Modern Tersimpan dengan Baik!

Menurut Agusman, akselerasi pertumbuhan KMK didorong oleh pertumbuhan kredit yang disalurkan pada sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang masing-masing tumbuh meningkat dari 4,6% dan 5,5% menjadi 8,2% dan 6,9% masing masing mencapai Rp546,4 triliun dan Rp763,2 triliun.

Sejalan dengan peningkatan pertumbuhan pada KMK, kredit investasi (KI) juga tercatat mengalami peningkatan pertumbuhan terutama terjadi pada sektor perdagangan, hotel dan restoran serta keuangan, real estate, dan jasa perusahaan yang masing-masing meningkat dari 7,3% dan 12,3% menjadi 8% dan 12,6%.

 Baca juga: 35.000 Perusahaan Ritel Janji Tidak Lakukan Double Swipe Kartu Kredit hingga Debit

Sementara pertumbuhan kredit konsumsi (KK), terutama terjadi pada peningkatan kredit kepemilikan rumah (KPR). Tercatat, pertumbuhan KPR dan KPA terus meningkat dari 10,4% pada bulan sebelumnya menjadi 10,6% atau mencapai Rp393,8 triliun pada September 2017.

 Baca juga:

“Kalau untuk kredit real estate juga mengalami peningkatan sebesar 8,9%,” ujarnya. Meskibegitu, Agusmanmenjelaskan, akselerasi kredit KPR/ KPAdan realestate tersebuttidak sejalan dengan pertumbuhan kredit pada sektor properti yang melambat pada September 2017.

Menurut Agusman, perlambatan pertumbuhan tersebut disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan sektor kredit konstruksi terutama konstruksi perumahan menengah, besar, dan mewah. “Kredit konstruksi tumbuh lambat dari 22,1% menjadi 20,2%,” katanya.

Di samping itu, dia mengungkapkan, suku bunga kredit dan suku bunga simpanan berjangka mengalami penurunan yang mencerminkan pengaruh pelonggaran kebijakan moneter melalui transmisi suku bunga.

Dia menuturkan, rata-rata suku bunga kredit perbankan tercatat sebesar 11,6% turun 8 bps dari bulan sebelumnya yang mengikuti penurunan suku bunga BI 7 day reverse repo rate .

Demikian juga dengan suku bunga simpanan berjangka dengan tenor 1,3,6,12 dan 24 bulan masing-masing tercatat sebesar 6,09%, 6,46%, 6,8%, 6,99%, dan 6,91% turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 6,3%, 6,54%, 6,86%, 7,06% dan 6,94%.

Ke depan intermediasi perbankan diperkirakan membaik sejalan dengan berlanjutnya dampak penurunan suku bunga acuan dan pelonggaran kebijakan makroprudensial yang dilakukan sebelumnya oleh Bank Indonesia, serta kemajuan dalam konsolidasi perbankan dan korporasi.

Selain itu, pembiayaan perekonomian melalui pasar modal diharapkan juga membaik sejalan dengan langkah-langkah pendalaman pasar keuangan. “Bank Indonesia bersama otoritas terkait akan terus berkoordinasi untuk memastikan stabilitas sistem keuangan dapat tetap terjaga guna mendukung momentum pemulihan ekonomi,” pungkasnya.

Research Director at Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal memperkirakanpada akhir2017 ada beberapa hal yang menghambat peningkatan kredit lantaran kondisi perlambatan konsumsi saat ini diperkirakan masih berlanjut hingga akhir tahun.

Berdasarkan survei ekspektasi konsumen dan penjualan ritel BI diperkirakan awal tahun membaik. “Artinya kondisi dunia usaha belum mendukung bagi pelaku usaha untuk mengajukan aplikasi kredit baru.

Risiko gagal kredit (NPL) masih relatif tinggi,” kata Faisal saat dihubungi. Dia menambahkan, adanya rencana penurunan suku bunga KUR pada tahun depan juga diperkirakan sedikit meredam perlambatan kredit.

“Tapi penyaluran KUR juga masih banyak yang belum tepat sasaran karena masih mensyaratkan kolateral yang susah dipenuhi oleh usaha kecil. Dengan begitu, akhirnya KUR disalurkan ke usaha rekanan bank yang sudah dikenal, bukan yang benar- benar membutuhkan,” ungkapnya.

(Fakhri Rezy)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement