"UKM tidak perlu lagi datang ke Jakarta untuk mengurus dana bergulir, karena bisa diurus melalui sistem Fintech. Kita sedang menunggu rekomendasi dari OJK, terkait vendor fintech mana yang bisa kerjasama. Fintech ini di awalnya akan menyasar para wirausaha pemula," terangnnya.
Ketiga, LPDB KUMKM akan membangun Core Micro Financing System (CMFS) di mana dengan adanya sistem tersebut seluruh aktivitas pembiayaan dari LPDB KUMKM akan diakses secara online yang bertujuan untuk mempermudah koperasi dan UKM mengakses pembiayaan. LPDB KUMKM nantinya bisa memantau secara realtime para debitur dana bergulir.
"Keempat, kita melakukan perombakan SOP dengan berkoordinasi dengan lembaga penjaminan. Sekarang, perusahaan penjaminan yang akan menjaring koperasi yang ingin mengajukan dana bergulir," tuturnya.
Braman menambahkan, target dana bergulir sebesar Rp1,2 triliun yang akan dialokasikan dengan pola konvensional sebesar Rp750 miliar dan pola syariah sebesar Rp450 miliar. Dari target tersebut, direncanakan pembagian berdasarkan jenisnya yaitu sebesar Rp480 miliar kepada koperasi simpan pinjam sebesar Rp120 miliar, kepada operasi sektor rill sebesar Rp240 miliar kepada LKB/LKBB dan sebesar Rp360 miliar kepada UMKM yang termasuk di dalamnya Rp100 miliar untuk wirausaha pemula.
Untuk diketahu, tahun lalu realisasi penyaluran mencapai 79,40% dari target sebesar Rp1 triliun atau sebesar Rp793,9 miliar. Tercatat dari realisasi proses penyaluran dengan rincian yaitu komite menunggu Memorandum Komite Pinjaman (MKP) terbit sebesar Rp12,76 miliar, MKP dan SP3 terbit sebesar Rp48 miliar, mitra keberatan Rp35,96 miliar, telah akad menunggu cair Rp489,4 miliar dan yang telah dicairkan Rp207,82 miliar.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.