nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Banyak Pilot Nganggur, Apa Karena Lulus Terlalu Cepat?

Feby Novalius, Jurnalis · Jum'at 26 Januari 2018 06:14 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 25 320 1850108 banyak-pilot-nganggur-apa-karena-lulus-terlalu-cepat-pln7xaQoWd.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

JAKARTA - Asosiasi Pilot Garuda Indonesia (APG) menilai banyaknya pilot di Indonesia yang lulus dengan cepat. Padahal jika melihat standar yang ada, pendidikan pilot harusnya minimal ditempuh dalam waktu 2 tahun.

Presiden APG Bintang Hardiono mengatakan, sekarang banyak sekolah penerbangan (flying school) swasta yang mencetak pilot dengan waktu hanya 1 tahun. Tentu, bagi Kapten Pilot Garuda Indonesia ini, waktu pendidikan calon pilot tersebut sangat cepat.

 Baca juga: Banyak Pilot Nganggur, Menhub: Sekolah Penerbang Jangan Hanya Cari Duit

"Di Indonesia (pemerintah) punya Sekolah Negeri seperti Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug dan di Banyuwangi. Di mana pendidikannya minimum 2 tahun," tuturnya kepada Okezone.

Secara kualitas, Bintang mengaku tidak mengetahui detail apakah pendidikan cepat untuk calon pilot mempengaruhi atau tidak. Yang jelas lulusan pilot kualitas sama karena semua sudah standar.

 Baca juga: 600 Pilot Menganggur, Menhub Tutup 2 Sekolah Penerbangan karena Tidak Berkualitas

"Lulusan itu kan dapat sertifikat yang di cek dari perhubungan," ujarnya.

Dia melanjutkan, banyak lulusan pilot menganggur sekarang diakibatkan banyaknya pilot asing yang menyerbu Indonesia untuk mencari pengalaman terbang. Hal tersebut karena di negara mereka sulit untuk dapat pengalaman terbang karena banyak aturan.

"Mereka itu mau di bayar murah di Indonesia supaya dapat pengalaman terbang. Sehingga lulusan kita tidak tertampung," ujarnya.

 Baca juga: Ini Alasan Banyak Pilot Asing di Penerbangan Indonesia Timur

Menurutnya, pemerintah harus membuat suatu kebijakan terkait pilot asing yang mau bekerja di Indonesia. Misalnya, buat aturan minimum sudah berpengalaman dengan jam terbang di atas 5.000 jam.

"Dengan batasan tersebut maka pilot-pilot kita baru selesai training bisa tersalurkan di negeri sendiri. Ini juga harus melibatkan Departemen Tenaga Kerja dan Perhubungan," tuturnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini