JAKARTA - Meskipun bisnis properti masih dirasakan lesu oleh pelaku pasar, namun hal tersebut tidak memberikan dampak terhadap performance kinerja keuangan PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) sebagai produsen keramik.
Pasalnya, sepanjang Januari-September 2018, perseroan berhasil membukukan penjualan neto sebesar Rp1,46 triliun. Nilai tersebut meningkat 15,56% dibandingkan dengan pendapatan perseroan periode sama 2017 sebesar Rp1,27 triliun.
Dalam laporan keuangan yang dirilis, perseroan juga membukukan kenaikan sejumlah beban seperti beban penjualan yang meningkat 26% dan beban umum dan administrasi yang naik tipis 2,9%.
Perseroan membukukan kerugian kurs sebesar Rp3,9 miliar dari yoy laba kurs Rp479,16 juta. Perseroan mencatatkan penjualan aset tetap sebesar Rp807,32 juta atau meningkat 205,2%, dan pendapatan lain-lain meningkat 30,14% ke level Rp4,84 miliar. Demikian seperti dikutip Harian Neraca, Jakarta, Selasa (16/10/2018).
Baca Juga: Arwana Siapkan Dana Buyback Saham Rp30 Miliar
Alhasil, meski sejumlah beban meningkat dan mengalami rugi kurs, ARNA tetap membukukan laba usaha sebesar Rp165 miliar hingga kurtal III/2018, meningkat 26,3% dari periode sama tahun sebelumnya. Adapun, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan pada pemilik entitas induk mencapai Rp115,94 miliar, meningkat 38,22% dibandingkan dengan periode sama 2017.
Adapun, Arwana Citramulia akan memulai pembangunan pabrik baru perseroan yang akan berlokasi di Ogan Komeng Ilir, Sumatra Selatan (Sumsel). Pabrik dengan kapasitas 6 juta ton per tahun tersebut, total kapasitas perseroan akan mencapai 63,37 juta meter persegi keramik.
”Pembangunan fisiknya untuk penambahan lini 1 sudah selesai dan saat ini perseroan sedang menunggu kedatangan mesin-mesin baru dari Italia. Dengan tambahan kapasitas ini, kami menargetkan mulai dikomersilkan pada semester II/2019,” kata Direktur Arwana Citramulia Edy Suyanto.
Hadirnya pabrik di Sumsel dengan nilai investasi mencapai Rp150 miliar, perseroan berharap kapasitas produksi keramik menjadi 14 juta m2 per tahun dari semula 8 juta m2 per tahun.
Baca Juga: BEI Usahakan Emiten Indonesia Bisa Melantai di Bursa Thailand
Kata Edy, perseroan akan terlebih dahulu meningkatkan kapasitas pabrik di Sumatra Selatan, sebelum di pabrik lain karena kenaikan permintaan di wilayah Sumatera. Pemulihan harga komoditas dan pembangunan infrastruktur mengerek konsumsi keramik di wilayah tersebut.
”Pertumbuhan permintaan keramik akan tumbuh karena konsumsi per kapita kita yang masih rendah. Dengan produksi sekitar 350 juta meter persegi tahun lalu dan 250 juta penduduk, konsumsi keramik per kapita hanya 1,3 meter persegi. Padahal rata-rata di Asia Tenggara itu di atas 2 meter persegi per kapita,” ungkapnya.
Tahun ini, perseroan membidik pertumbuhan laba usaha dapat mencapai Rp219,17 miliar, mengandalkan upaya efisiensi biaya produksi sekaligus ekspansi kapasitas produksi keramik.
Target pertumbuhan tersebut meningkat 19,9% dibandingkan laba usaha perseroan pada 2017 yang sebesar Rp183,20 miliar. Pada tahun lalu, perseroan meningkatkan kinerja melalui efisiensi pabrik sehingga mampu menghemat hingga Rp4,85 miliar per bulannya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.