Sritex Bakal Buyback Obligasi Rp4,99 Triliun

Senin 07 Januari 2019 11:22 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 07 278 2000896 sritex-bakal-buyback-obligasi-rp4-99-triliun-C3Bx72VCrn.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Emiten tekstil dan garmen, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex akan membeli kembali atau buyback obligasi yang jatuh tempo pada tahun 2021 senilai UD350 juta atau setara dengan Rp4,99 triliun.

Surat utang lama yang akan dibeli kembali tersebut memiliki bunga 8,25%. Demikian seperti dikutip Harian Neraca, Jakarta, Senin (7/1/2019).

Corporate Communications Sri Rejeki Isman, Joy Citra Dewi mengatakan, pihaknya ingin mempercepat obligasi untuk menurunkan cost of fund atau beban keuangan dan diversifikasi pendanaan. "Kami selalu mencari opsi untuk mendapatkan pendanaan yang lebih murah," kata Joy.

 Baca Juga: Wawancara Bos Sritex, Bikin Seragam Militer hingga Merchandise Asian Games

Buyback akan dilakukan melalui tender, dengan harga buyback obligasi yang ditawarkan USD1.012,5 atau lebih tinggi USD12,5 dari harga pokok obligasi sebesar USD1.000.

Nantinya, total pembelian akan mencapai angka USD185 juta, dan kemungkinan bisa dinaikkan. Jika menerima penawaran pembayaran awal, investor juga akan mendapatkan USD30 per USD1.000 pokok obligasi. Sehingga, total keuntungan yang didapat investor yang menjual obligasi mencapai USD42,5 untuk setiap USD1.000 pokok obligasi. Periode buyback ini ditutup pada 11 Februari 2019 kecuali diperpanjang atau ditutup lebih awal.

Seluruh dana yang akan dikeluarkan oleh SRIL berasal dari pinjaman bank. Dimana cost of fund pinjaman bank ini lebih rendah tanpa merinci besaran bunga pinjaman bank ini. Pada sembilan bulan pertama 2018, beban keuangan SRIL mencapai USD50,74 juta, naik 10,14% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

 Baca Juga: Sri Rejeki Isman Sabet Predikat IDX Best Blue

Sekadar informasi, SRIL menerbitkan obligasi ini lewat anak usaha yang dimiliki penuh, Golden Legacy Pte Ltd. Golden Legacy menerbitkan obligasi ini pada Juni 2016. Wesel bayar ini merupakan refinancing dari seri sebelumnya yang jatuh tempo 2019 sebesar USD180,74 juta dengan bunga 9%. Obligasi ini tercatat di Bursa Singapura.

Head of Fixed Income Fund Manager Prospera Asset Management Eric Sutedja mengatakan, cost of fund untuk obligasi dollar AS, kupon 8,25% cukup tinggi, sehingga tidak akan menimbulkan risiko jika melakukan aksi korporasi buyback.

“Jika dilihat dari laporan keuangan per kuartal ketiga 2018, laba bersih SRIL USD70,5 juta atau setara dengan Rp1,05 triliun, sementara biaya untuk membayar bunga Rp756 miliar, sehingga jika sebagian utang dilunasi maka biaya bayar bunga akan turun," kata Eric.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini