nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pertumbuhan Industri Perdagangan Digital di Indonesia Semakin Menjanjikan

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 28 Januari 2019 11:20 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 28 320 2010255 pertumbuhan-industri-perdagangan-digital-di-indonesia-semakin-menjanjikan-9yJ3R0NhRj.jpg Belanja online (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA – Pertumbuhan industri perdagangan digital di Indonesia semakin menjanjikan tahun ini. Berdasarkan prediksi McKinsey pertumbuhan e-commerce di Indonesia dapat meningkat hingga delapan kali lipat dari total belanja online sebesar USD8 miliar pada 2017 menjadi USD55–65 miliar pada 2020. McKinsey juga memprediksi penetrasi belanja online masyarakat Indonesia dapat meningkat menjadi 83% dari total pengguna internet atau meningkat sekitar 9% dibanding penetrasi belanja online pada 2017. Country Head of ShopBack Indonesia Indra Yonathan melihat industri e-commerce di Indonesia pada 2019 akan semakin terarah dan berkembang.

Tahun ini pelaku e-commerce diprediksi semakin gencar menghadirkan inovasi untuk menggaet konsumen baru dan mempertahankan konsumen lama. Perang promo potongan harga serta promo lainnya akan tetap mewarnai e-commerce pada 2019. ”Selain itu, gamifikasi pada aplikasi e-commerce pun di gadang-gadang akan semakin banyak bermunculan untuk meningkatkan daily active users (DAU) platform ecommerce tersebut,” ujar Indra di Jakarta baru-baru ini. Yonathan juga menyebutkan tentang aturan pajak e-commerce yang dikeluarkan Kementerian Keuangan atau PMK-210 akan efektif pada 1 April mendatang.

Baca Juga: Fakta soal Pajak E-Commerce, Pedagang Tidak Wajib Miliki NPWP

Aturan ini diakuinya masih mendatangkan pro-kontra bagi para pelaku e-commerce.”Namun, jika ini disosialisasikan dengan baik dan diterapkan secara adil, tentu akan memperjelas laju industri e-commerce di Indonesia,” ujarnya. Sementara itu, sebagai platform aggregator e-commerce, ShopBack juga melihat tren dalam perdagangan digital di Indonesia tahun ini. Transaksi melalui perangkat mobile akan terus meningkat. Indonesia merupakan negara mobile-firstkarena lebih dari 94% masyarakat terkoneksi dan mengakses internet melalui perangkat smartphone (data Google & Temasek).

Rata-rata masyarakat menghabiskan 4 jam untuk mengakses internet melalui perangkat mobile. Bahkan, 68% dari masyarakat yang terkoneksi itu merupakan online shopper yang menggunakan perangkat mobile/smartphone untuk mencari produk yang diinginkan. ”Dari data transaksi kami menunjukkan aplikasi mobile menyumbang 75% volume pemesanan secara online. Hal ini bukti masyarakat mengandalkan perangkat mobile tidak hanya dalam bersosial media, tetapi juga transaksi online,” katanya.

belanja online

Tren lainnya penjualan dari medsos akan cenderung menurun. Perlahan pelaku UMKM yang berjualan di platformsosial media mulai merambah dan masuk ke platforme-commerce. Nilai jual produk lokal yang tinggi pada harbolnas tahun lalu, membuat UMKM optimistis bisa mengembangkan usahanya jika bergabung dengan platform e-commerce. ”Selain itu, kemudahan pendataan pemesan serta marketing budgetsecara tidak langsung diberikan platform e-commerce. Ini menjadi alasan UMKM mulai mencoba bergabung di platform e-commerce,” kata Yonathan. Kemudian tren berikutnya industri logistik nasional terus membenahi performa dari tahun ke tahun.

Berdasarkan indeks performa industri logistik dari World Bank pada 2018, Indonesia meloncat 17 peringkat ke peringkat 46 pada 2018. Sebelumnya pada 2016, Indonesia hanya menduduki peringkat 63 dari 160 negara. Perbaikan performa ini juga tidak lepas dari pola perilaku belanja online masyarakat Indonesia yang menginginkan pengiriman cepat dan aman. ”Pada tahun ini, pelaku industri logistik akan terus berbenah dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Bahkan, McKinsey memprediksi akan ada lebih dari 1,6 miliar paket yang dikirimkan setiap tahun dari sektor e-commerce pada 2022,” ujarnya.

Pihaknya juga melihat konsentrasi perdagangan digital masih di kota-kota besar di Pulau Jawa. Pada 2019, dia melihat adanya peluang bagi para pelaku e-commerce untuk merambah kota-kota di luar Pulau Jawa. Hal ini diperkuat dengan riset yang dikeluarkan Nielsen pada Desember 2018, terjadi peningkatan transaksi belanja online sebesar 6% di luar Pulau Jawa dibanding tahun sebelumnya saat pesta belanja online berlangsung. Metode pembayaran digital atau e-wallet pada 2018 menunjukkan hasil positif, hal ini menjadikan sektor ini menjadi industri yang menjanjikan di Indonesia. Namun, tipikal masyarakat Indonesia menginginkan kemudahan dan keamanan dalam bertransaksi.

Dengan begitu, metode pembayaran yang bersifat agnostik akan lebih banyak digemari, karena dapat digunakan oleh sumber dana manapun, perangkat merek apapun, serta di merchant manapun. ”Potongan harga dan cashback masih menjadi andalan promosi. Pada 2019, semakin marak penawaran cashback. Cashback tersebut nanti akan masuk ke e-wallet yang tentunya telah bekerja sama dengan e-commerce tersebut,” katanya.

(Hafid Fuad)

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini