Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Warisan Bos Sinarmas Senilai Rp120 Triliun hingga Jawaban Sri Mulyani Disebut Pencetak Utang

Giri Hartomo , Jurnalis-Sabtu, 02 Februari 2019 |21:17 WIB
Warisan Bos Sinarmas Senilai Rp120 Triliun hingga Jawaban Sri Mulyani Disebut Pencetak Utang
Menteri Keuangan Sri Mulyani
A
A
A

JAKARTA - Presiden Joko Widodo meyakinkan salah seorang warga yang mendapatkan program sambungan listrik gratis dari PT PLN (Persero). Sebab sebelumnya, warga tersebut menolak pemberian oleh Presiden Joko Widodo dengan alasan takut tidak bisa membayar iurannya.

Berikutnya ada kabar duka dari keluarga besar Sinarmas, sebab salah seorang pendiri perusahaan besar tersebut yakni Eka Tjipta Widjaja meninggal dunia. Eka Tjipta meninggalkan warisan yang cukup besar yang mana nilainya mencapai Rp120 triliun

Selanjutnya ada respon dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang disebut sebagai Menteri pencetak utang. Menurut Sri Mulyani seharusnya jangan hanya melihat utang secara nominal melainkan juga peruntukannya.

Ketiga berita tersebut merupakan berita-berita populer selama akhir pekan kemarin di kanal Okezone Finance. Berikut berita selengkapnya:

Warga Takut Tak Bisa Bayar Listrik, Begini Jawaban Presiden Jokowi


Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau beberapa rumah yang menggunakan penyambungan listrik gratis di Muara Gembong, Bekasi. Turut mendampingi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuldjono hingga Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir.

Dalam tinjauannya, Presiden Joko Widodo sempat berbincang-bincang dengan warga yang rumahnya dipasang sambungan listrik gratis. Dalam bincang-bincang tersebut ada satu orang warga yang berniat ingin mengembalikan sertifikat pemasangan tersebut kepada Presiden Jokowi.

Alasannya adalah karena dirinya khawatir tidak bisa membayar iuran listrik tersebut. Pasalnya, dirinya hanya bekerja sebagai seorang petani tambak yang mana penghasilannya tidak menentu.

"Saya takut enggak sanggup bayar pak ? Karena pekerjaan saya buruh tambak yang kerjaannya enggak tentu," ujar salah seorang warga Muara Gembong di Bekasi Jawa Barat, Rabu (30/1/2019)

Menanggapi keluhan tersebut, Presiden Joko Widodo menjawabnya dengan bijak. Menurutnya, sambungan tarif listrik ini tidak akan memberatkan sebab pembayarannya bisa dengan Rp10.000 saja per rumah karena iuran dengan rumah lainnya.

Dirinya pun percaya jika warga tersebut bisa membayar uang iuran. Lagi pula lanjutnya sudah menjadi hak warga juga untuk menikmati sambungan listrik.

"Kalau listrik ini enggak memberatkan. Karena sistemnya sama seperti membeli token. Bayarnya bisa Rp10.000 sampai Rp30.000," jelas Jokowi.

Sementara itu, Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, sinergi BUMN telah melakukan penyambungan listrik gratis sebanyak 309 rumah untuk keluarga yang tidak mampu di Muara Gembong Kabupaten Bekasi. Saat ini rasio elektrifikasi Kabupaten Bekasi sudah mencapai hampir 100%.

Hanya saja, PLN mencatat masih ada 11.000 kepala keluarga yang memperoleh listrik dari rumah tetangga (nyantol/levering) lantaran mereka tidak mampu menanggung biaya penyambungan dan instalasi listrik sebesar Rp 1 juta.

“Kenyataannya memang masih ada warga yang berlistrik tapi itu diambil dari rumah yang sudah berlistrik (levering)," kata Rini.

Oleh karena itu lanjut Rini, program ini merupakan program nasional di seluruh Indonesia yang bertujuan untuk menyediakan listrik bagi mereka yang tidak mampu membayar.

Wilayah Jawa Barat sendiri tercatat sudah tersambung 105.000 rumah, dari target 235.000 ribu rumah. Secara nasional sebanyak 1.2 juta kepala keluarga akan memperoleh sambungan listrik gratis secara bertahap.

"Dengan bantuan sambungan listrik melalui Sinergi BUMN kepada masyarakat, warga sepenuhnya akan menikmati listrik langsung dari PLN. Ini tentunya sangat membantu masyarakat untuk mendapatkan akses listrik yang lebih murah, dan bisa lebih menopang kegiatan ekonomi rumah tangganya," jelasnya.

Daftar Warisan Eka Tjipta, Harta Rp120 Triliun hingga Belasan Perusahaan


Pendiri bisnis Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja meninggal dunia di usia 98 tahun. Orang terkaya ketiga di Indonesia ini meninggalkan sederet bisnisnya di berbagai sektor.

Eka Tjipta berhasil membangun perusahaannya Sinar Mas Group yang bergerak di berbagai sektor bisnis, mulai properti, perkebunan, industri pengolahan, hingga keuangan.

Kekayaan yang dimiliki oleh mendiang Eka Tjipta Widjaja mencapai USD8,6 miliar atau sekitar Rp120,4 triliun (kurs Rp14.000 USD).

Beberapa perusahaan Sinar Mas juga tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia. Antara lain, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (PT SMART), PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM), PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS).

Kemudian, PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSA), PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI), PT Smartfren Telecom Tbk (SMAR), PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA), dan PT Tjiwi Kimia Tbk (TKIM).

Dengan demikian, Eka Tjipta akan meninggalkan warisan kekayaan sekira Rp120 triliun hingga bisnisnya kepada keluarga yang berhak.

Berikut gurita bisnis Eka Tjipta yang telah menjalar di berbagai sektor industri seperti dikutip Okezone, Jakarta, Minggu (27/1/2019).

1. Sektor Minyak, Golden Agri Resources (GAR)

Sektor ini merupakan sektor dibidang minyak sawit terbesar di bawah naungan perusahaan Golden Agri Resources. Perusahaan tersebut dijalani oleh anaknya yaitu Franky Oesman Widjaya,dan Mukhtar Widjaja.

Beroperasi di Indonesia, GAR memiliki anak usahanya yakni PT SMART Tbk (SMAR) menjadi perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 1992.

SMART memiliki total lahan seluas 138,000 hektar (termasuk plasma). Tak hanya penanaman dan pemanenan pohon kelapa sawit, pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi minyak sawit (CPO) dan inti sawit, perusahaan ini juga melakukan pemrosesan CPO menjadi produk bernilai tambah seperti minyak goreng, margarin, shortening, biodiesel dan oleokimia, serta perdagangan produk berbasis kelapa sawit ke seluruh dunia.

Produknya antara lain berupa minyak curah dan Industri serta minyak goreng dalam kemasan yang dipasarkan dengan merk Filma dan Kunci Mas.

2. Sektor Properti, Sinar Mas Land

Di Indonesia, bisnis properti Sinar Mas Land dijalankan oleh PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). Kedua perusahaan ini saja memiliki core business di pengembangan kota, township, perumahan, komersial, ritel, kawasan industri dan perhotelan.

Selain itu, Sinar Mas Land juga memiliki bisnis patungan (joint venture/JV) dengan Sojitz, perusahaan yang berasal dari Jepang untuk mengembangkan kota bernama PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS).yang beroperasi di Indonesia, China, Malaysia, dan Singapore. Bisnis ini dikendalikan oleh anak Eka Tjipta Widjaja yaitu Mukhtar Widjaja.

3. Bisnis Pulp dan Kertas, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia

Sektor bisnis pulp dan kertas ini dimulai dengan didirikan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia pada 1972 di Jawa Timur. Perusahaan ini resmi menjadi perusahaan publik dengan bisnis melepaskan 9,30 juta sahamnya ke publik dan memperoleh kode saham TKIM. Perusahaan ini dipegang oleh anak pertama Eka Tjipta Widjaja yaitu Teguh Ganda Widjaja.

Saat ini perusahaan ini memiliki jumlah kepemilikan publik sebesar 40,32% dan sisanya dimiliki oleh induk usahanya PT Purinisa Ekapersada (Purinusa) sebesar 59,67%.

Selain TKIM, perusahaan dengan usaha serupa lainnya yang juga menjadi perusahaan publik adalah PT Indah Kiat Pulp and Paper (INKP) yang juga menjadi perusahaan publik di tahun yang sama. Purinusa mendivertasikan kepemilikannya sebesar

4. Sektor Keuangan, PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA)

Melalui PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), merupakan bisnis yang merambah layanan sektor keuangan. Bisnis ini mencakup perbankan, asuransi, pembiayaan nasabah, dan manajemen aset. Bisnis ini di jalani oleh anaknya Indra Widjaja.

5. Sektor Teknologi, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN)

Sinar Mas juga menggeluti bisnis dibidang komunikasi dan telekomunikasi dibawah naungan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN).

6. Sektor Infrastruktur dan Energi, PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA)

Sinar Mas juga memiliki usaha dibidang penyediaan energy lstrik, pertambangan batu bara, infrastruktur, bahan kimia, perdagangan ritel dan multimedia. Usaha ini dijalankan oleh perusahaan bernama , PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) yang berdiri sejak 1996. HAnya bisnis ini dipegang langsung oleh generasi ke-III Eka Tjipta Widjaja.

Disebut Menteri Pencetak Utang, Begini Penjelasan Sri Mulyani


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati buka suara terkait utang pemerintah yang disebut meningkat hingga 69% dalam periode 4 tahun. Kritik tersebut membuatnya disebut sebagai Menteri Pencetak Utang oleh Calon Presiden Nomor urut 02 Prabowo Subianto.

Menurut Sri Mulyani, kritikan yang ditujukan kepada pemerintah tentang utang hanya melihat dari nominalnya saja. Bahkan beberapa orang yang mengkritik tidak mengetahui peruntukan utang tersebut untuk apa

"Jadi saya hanya ingin menyampaikan, yang disampaikan bukan sesuatu hal yang baru. Adalah sesuatu yang logis. Namun sebaiknya dilihatnya dalam konteks yang lebih besar," ujarnya dalam acara konferensi pers di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Sri Mulyani menambahkan, utang yang dilakukan pemerintah selama ini untuk menjaga ekonomi Indonesia agar tetap stabil. Apalagi selama 2018, perekonomian dalam negeri banyak mendapatkan tekanan dari eksternal.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebut penggunaan utang oleh pemerintah rata-rata untuk sektor produktif. Sebagai salah satu contohnya untuk membangun infrastruktur.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur ini menjadi sangat penting. Karena dengan adanya pembangunan ini harga-harga relatif bisa stabil dan merata. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur juga banyak membuka lapangan pekerjaan. Jika masyarakat mendapatkan pekerjaan, maka otomatis memiliki pendapatan lebih.

Jika harga merata dan masyarakat memiliki pendapatan berlebih maka uangnya bisa digunakan untuk konsumsi. Jika konsumsi meningkat, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia juga akan terkerek naik dengan sendirinya.

Hal tersebut sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di mana kebanyakan utang pemerintah hanya untuk belanja sosial tanpa memikirkan belanja modal seperti infrastruktur.

"Waktu tahun 2014-2015, apakah dia mampu membangun infrastruktur, apakah kita mampu mengurangi kemiskinan, apakah kita bisa menjaga pertumbuhan ekonomi. Itu semuanya kan tujuannya. Jadi kalau cuma melihat dari utangnya saja, jadi kehilangan konteksnya," jelasnya.

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement