Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Optimisme Perang Dagang AS-China

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Optimisme Perang Dagang AS-China
A
A
A

JAKARTA - Wall Street ditutup menguat pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi). Hal ini didorong oleh optimisme berakhirnya perang dagang meskipun data ekonomi kedua negara tersebut kurang baik.

Mengutip Antaranews dari halaman Xinhua Sabtu (2/3/2019), Indeks Dow Jones Industrial Average naik 110,32 poin atau 0,43%, menjadi berakhir di 26.026,32 poin. Sedangkan Indeks S&P 500 bertambah 19,20 poin atau 0,69%, menjadi ditutup di 2.803,69 poin. Sementara Indeks Komposit Nasdaq berakhir 62,82 poin atau 0,83% lebih tinggi, menjadi 7.595,35 poin.

Saham Dentsply Sirona melonjak secara dramatis hampir 17,7% di sekitar penutupan pasar, setelah pembuat peralatan gigi AS itu membukukan laba kuartal keempat yang kuat dan penjualannya mengalahkan ekspektasi pasar.

Saham Foot Locker juga meningkat hampir 6,0%, setelah pengecer sepatu dan pakaian atletik AS itu membukukan hasil laba kuartal keempat yang melampaui perkiraan pasar.

Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 diperdagangkan lebih tinggi, dengan sektor real estate naik lebih dari 1,8%, memimpin para pemenang di antara kelompok-kelompok tersebut.

Dari siai ekonomi, indeks sentimen konsumen University of Michigan sedikit bangkit kembali ke 93,8 pada Februari, dari terendah Januari di 91,2 karena penutupan pemerintah AS, kata universitas itu dalam survei yang dirilis pada Jumat lalu.

Namun, angka, sebagai indikator utama untuk mengukur kepercayaan konsumen di Amerika, datang di belakang perkiraan analis untuk bulan ini.

Indeks Pembelian Manajer (PMI) ISM turun menjadi 54,2 persen pada Februari, turun 2,4 persentase poin dari angka Januari di 56,6 persen, Institute for Supply Management (ISM) mengatakan dalam Laporan Manufaktur ISM terbaru tentang Bisnis yang dirilis pada Jumat (1/3), menunjukkan pertumbuhan aktivitas manufaktur negara itu menyusut bulan lalu.

Indeks mencapai tingkat ekspansi terendah sejak November 2016, terutama diseret oleh perlambatan pertumbuhan produksi dan pertumbuhan lapangan kerja di bulan tersebut, menurut laporan itu.

PMI ISM telah menjadi indikator utama kesehatan ekonomi untuk sektor manufaktur dan jasa. Angka di atas 50% menunjukkan bahwa ekonomi manufaktur pada umumnya berkembang, sedangkan di bawah 50% menunjukkan bahwa pada umumnya mengalami kontraksi.

Meskipun pandangan positifnya pada ekonomi AS didasarkan pada pasar tenaga kerja yang kuat, Ketua The Fed Jerome Powell menekankan pada Kamis (28/1) malam perlunya bersabar, karena "beberapa arus lintas dan sinyal-sinyal yang saling bertentangan tentang prospek jangka pendek."

Itu termasuk pengetatan kondisi-kondisi keuangan sejak penurunan yang lalu, perlambatan pertumbuhan di negara-negara besar, meningkatnya ketidakpastian atas masalah-masalah kebijakan pemerintah, seperti Brexit dan negosiasi perdagangan baru-baru ini.

"Mengingat prospek positif tetapi juga meredam tekanan inflasi dan arus lintas yang baru saja saya sebutkan, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan bersabar ketika kami menentukan penyesuaian mendatang terhadap kisaran target untuk suku bunga Federal Fund yang mungkin sesuai untuk mendukung tujuan mandat ganda kami," kata Powell di Citizens Budget Commission 87th Annual Awards Dinner di New York City, seperti dikutip dari Xinhua.

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement