nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menperin Sebut Industri Hasil Tembakau Serap 5,9 Juta Tenaga Kerja

Kamis 28 Maret 2019 11:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 28 320 2036007 menperin-sebut-industri-hasil-tembakau-serap-5-9-juta-tenaga-kerja-ynSoGlKwqT.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai Industri Hasil Tembakau (IHT) merupakan salah satu sektor manufaktur nasional yang memiliki kontribusi besar bagi negara.

Dampaknya yang luas tersebut meliputi aspek sosial, ekonomi, maupun pembangunan bangsa Indonesia selama ini.

Menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap oleh sektor industri rokok sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi.

Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan. Selain dari aspek tenaga kerja, industri rokok telah meningkatkan nilai tambah bahan baku lokal dari hasil perkebunan seperti tembakau dan cengkeh.

“IHT merupakan bagian sejarah bangsa dan budaya Indonesia, khususnya rokok kretek. Pasalnya, merupakan produk berbasis tembakau dan cengkeh yang menjadi warisan inovasi nenek moyang dan sudah mengakar secara turun temurun,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Kamis (28/3/2019).

 Baca Juga: Industri Hasil Tembakau di Jawa Timur Terancam

Tak hanya itu, industri rokok juga dinilai sebagai sektor yang berorientasi ekspor sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi.

Pada 2018 lalu, nilai ekspor rokok dan cerutu meningkat 2,98% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar USD904,7 juta.

“Industri rokok juga dapat dikatakan sebagai kearifan lokal yang memiliki daya saing global,” tegas Airlangga.

Industri hasil tembakau turut berkontribusi besar dalam penerimaan cukai. Pada 2018 lalu, penerimaan cukai menembus hingga Rp153 triliun atau lebih tinggi dibandingkan perolehan pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp147 triliun.

Penerimaan cukai pada tahun lalu telah berkontribusi 95,8% terhadap pendapatan cukai nasional.

 Baca Juga: Produk Tembakau Alternatif Perlu Fatwa MUI

Meski demikian, produk IHT merupakan barang kena cukai. Pengenaan cukai ini untuk mengendalikan konsusimnya. Karena itu, peraturan terkait rokok semakin ketat, baik di dalam maupun luar negeri. Alasan petimbangan terhadap perlindungan konsumen dan kesehatan menjadi tantangan tersendiri bagi industri rokok.

“Tentunya, melalui industri ini, kami tidak menganjurkan agar masyarakat banyak mengkonsumsi rokok, tetapi kami mengajak bahwa anak-anak muda dijauhkan dari rokok, terutama anak sekolah. Selain itu, kemi mendorong untuk menjaga kesehatan melalui R&D industrinya,” ungkap Airlangga.

Dalam kunjungan ke Yogyakarta beberapa waktu lalu, Airlangga juga mengapresiasi Mitra Produksi Sigaret Berbah PT Mitra Adi Jaya dengan jumlah tenaga kerja 900 orang. MPS Berbah memproduksi SKT hingga 3,72 juta batang per minggu atau 200,88 juta batang per tahun, setara dengan Rp 200 miliar per tahun.

“Secara keseluruhan yang bekerja di MPS wilayah Jogja sebanyak 3.500 karyawan, karena ada dari Bantul dan Wates. Beberapa waktu lalu, Bapak Menperin sudah meninjau di Lamongan dan Mojokerto,” kata Direktur Urusan Eksternal PT HM Sampoerna Tbk Elvira Lianita.

Menurut Elvira, keberadaan MPS juga menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi di sekitarnya karena dapat memacu usaha-usaha lain untuk tumbuh dan berkembang.

(dni)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini