Biaya Rapid Test Lebih Mahal daripada Tiket Kapal Laut

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 26 Juni 2020 10:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 26 320 2236692 biaya-rapid-test-lebih-mahal-daripada-tiket-kapal-laut-n8rVPsldzi.jpg Biaya Rapid Test Jadi Beban Baru Masyarakat. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Rapid test menjadi syarat utama bagi penumpang yang ingin berpergian ke luar kota menggunakan angkutan udara, kereta hingga kapal. Namun, syarat ini justru memberatkan penumpang karena biayanya mahal.

Indonesia National Shipowners Association (INSA) mencatat, meski pemerintah tegah melakukan masa PSBB transisi menuju New Normal dengan memperbolehkan kembali penumpang atau masyarakat berpergian dengan protokol kesehatan yang ketat. Hal tidak serta merta membuat jumlah penumpang Kapal Roro meningkat.

Baca Juga: Dampak Corona, Pendapatan Sektor Pelayaran Ambles hingga 100%

Menurut Ketua INSA Carmelita Hartoto, calon penumpang merasa kesulitan dengan syarat-syarat yang diberikan. Misalnya harus mengikuti rapid test Covid-19 yang biayanya lebih mahal dari tiket itu sendiri

“Rapid test juga cukup mahal, daerah-daerah tertentu ada yang harus rapid test, tapi ada juga memperbolehkan surat keterangan sehat dari klinik. Kami menyampaikan ke Kementerian Perhubungan, ini tergantung dari Gugus Tugas, sehingga minta bagaimana caranya mekanismenya. Pakai rapid test lebih mahal dari harga tiket itu sendiri,” tuturnya, dalam diskusi virtual, Jakarta, Jumat (26/6/2020).

Baca Juga: Bisnis Tergerus Covid-19, Pengusaha Pelayaran Tagih Stimulus

Untuk itu, dirinya berharap ada solusi dari Kementerian Perhubungan, supaya penumpang tidak diberatkan dengan mahalnya biaya rapid test. Apalagi, industri pendapatan sektor pelayaran sudah mengalami penurunan hingga 100%, imbas kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran virus Corona di Tanah Air.

“Penurunan pelayaran penumpang berkisar 75%-100% karena adanya penutupan pelabuhan dari bupati atau gubernur, tidak memperbolehkan ada yang datang dan mudik," ujarnya.

Para pengusaha pun mencoba mengakalinya dengan mengangkut barang. Namun sayangnya kapasitas angkut penumpang hanya mencapai 50%.

"Selain itu, mereka diharapkan untuk mengangkut barang, penumpang cuma 50%,” ucapnya

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini