Terseret Isu Tas Bansos, Saham Sritex Terjun Bebas

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 21 Desember 2020 12:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 21 278 2331405 terseret-isu-tas-bansos-saham-sritex-terjun-bebas-iKfHdGea0a.jpg IHSG (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Nama PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex diisukan terlibat dugaan kasus korupsi bantuan sosial (Bansos) Covid-19 yang dilakukan mantan Mensos Juliari Batubara.

Hal itu membuat harga saham Sritex mengalami koreksi pada perdagangan Senin (21/12/2020) siang.

Berdasarkan pantauan dari Bursa Efek Indonesia (BEI), pada penutupan perdagangan siang ini, saham Sritex turun Rp2 atau 0,70% ke level Rp282. Saham Sritex menyentuh level terendahnya Rp268 per lembar saham.

Baca Juga: Gibran: Kalau Mau Korupsi Kenapa Gak dari Dulu? 

Pagi tadi, saham Sritex dibuka di level Rp282 dengan level tertinggi Rp284

Sebelumnya, Putra Joko Widodo sekaligus Wali Kota Solo Terpilih Gibran Rakabuming Raka menegaskan tak pernah terlibat korupsi bansos Covid-19.

Nama Gibran disebut-sebut terlibat karena merekomendasikan goodie bag dari PT Sritex yang digunakan sebagai tempat bantuan bansos yang dibagikan Kemensos.

Seperti diketahui, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan koordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Koordinasi dilakukan menguak aliran uang terkait kasus suap pengadaan barang dan jasa bantuan sosial (bansos) Covid-19.

"Semua informasi tentu akan kami pelajari dan dalami. Kami juga berkoordinasi dengan para pihak terkait dengan transaksi para pihak. Kita menunggu informasi dan bukti petunjuk lainnya," ujar Ketua KPK Firli Bahuri kepada wartawan, Kamis (17/12/2020).

Di kesempatan berbeda, Plt Juru bicara KPK Ali Fikri mengatakan bahwa pihaknya juga akan meminta bantuan dari pihak perbankan untuk mendalami aliran uang suap bansos Covid-19 itu.

"Kami memastikan penanganan perkara oleh KPK ini akan kerjasama dengan pihak perbankan maupun PPATK dalam hal penelusuran aliran maupun transaksi keuangan," ungkapnya.

Namun, Ali belum mau memberitahu bukti-bukti apa saja yang telah diserahkan oleh PPATK terhadap lembaga antikorupsi itu. "Mengenai data dan informasi yang diberikan PPATK tentu tidak bisa kami sampaikan karena itu bagian dari strategi penyidikan penyelesaian perkara ini," ungkap Ali.

Diketahui, KPK telah menetapkan Menteri Sosial (Mensos), Juliari P Batubara (JPB) sebagai tersangka penerima suap. Juliari Batubara diduga menerima suap terkait pengadaan barang dan jasa berupa bansos dalam penanganan pandemi Covid-19.

Selain Juliari Batubara, KPK menetapkan empat tersangka lainnya. Empat tersangka itu yakni Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Kementerian Sosial (Kemensos), Matheus Joko Santoso (MJS) dan Adi Wahyono (AW) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam pelaksanaan proyek bansos Covid-19 di Kemensos . Kemudian, dua pihak swasta yakni, Ardian IM serta Harry Sidabuke.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini