5 Fakta Pendukung Pemulihan Ekonomi Global 2021

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 08 Maret 2021 15:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 08 320 2374318 5-fakta-pendukung-pemulihan-ekonomi-global-2021-fdrkQQBtqj.jpeg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Di tahun 2021 ini, pemulihan ekonomi global diperkirakan akan berekspansi dengan kecepatan tercepat dalam lima dekade. Salah satu pendorongnya seperti penyaluran dengan vaksin, stimulus moneter dan fiskal, imbal hasil obligasi pemerintah yang rendah, dan Dollar Amerika Serikat yang lebih lemah.

"Hal-hal tersebut akan memacu rebound yang kuat pada pertumbuhan global, dipimpin oleh China dan AS. Gelombang virus, kemunduran vaksin, inflasi yang rendah, dan pengetatan moneter adalah beberapa ancaman potensial," kata Head of Investment Strategy Bank of Singapore Eli Lee dalam keterangan tertulis, Senin (8/3/2021).

Baca Juga: Menko Luhut: Ekonomi Digital RI Tumbuh 2 Digit tapi Masih Kalah dari Vietnam

Meski begitu, dirinya menilai bahwa prospek makro ekonomi cenderung mendukung aset berisiko.

"Pemulihan global secara keseluruhan diperkirakan dengan ekonomi negara maju akan berekspansi sebesar 5,3%, dan negara berkembang akan rebound sebesar 6,3% di 2021,” ujarnya.

Berikut faktor yang dapat mendukung pemulihan di 2021:

• Ketahanan Ekonomi

Pandemi yang menyebabkan lockdown di 2020 diperkirakan mendorong era reflasi yang kuat di 2021.

Baca Juga: Jokowi: Kita Berada di Zaman Perang Kecerdasan Buatan seperti Space War

• Stimulus fiskal

Stimulus fiskal AS dan zona Eropa ditetapkan untuk mendorong pemulihan ekonomi di 2021. Paket USD 1,9 trilun dari pemerintahan Biden mengubah perkiraan kami untuk pertumbuhan AS di 2021 dari 5,0% meningkat menjadi 6,0%.

Sementara dana pemulihan € 750 miliar Uni Eropa akan memberikan dorongan lebih dari 2% dari PDB setahun untuk ekonomi Zona Euro.

• Bank sentral yang dovish

Kami memperkirakan Federal Reserve tidak akan memulai tapering, dan mempertahankan laju quantitative easing (QE) sampai 2022, karena tingkat ketenagakerjaan dan inflasi inti AS yang dibawah target bank sentral sebesar 2%.

Bank Sentral Eropa (ECB) tidak mungkin menskalakan kembali Program Pembelian Darurat Pandemi € 1,85 triliun, mengingat inflasi inti saat ini jauh dari target 2% ECB.

Tingkat inflasi yang sangat rendah di Cina, Jepang, dan Inggris juga akan memungkinkan People's Bank of China, Bank of Japan (BoJ) dan Bank of England (BoE) untuk menahan kenaikan suku bunga pada tahun 2021.

• Imbal hasil obligasi jangka panjang tetap rendah

Kombinasi bank sentral yang menjaga suku bunga mendekati 0% (seperti The Fed, ECB, BoJ dan BoE) dan pemerintah yang melakukan stimulus fiskal lebih lanjut dan dapat mendorong imbal hasil obligasi jangka panjang ke level yang lebih rendah.

• USD cenderung melemah

USD diperkirakan akan tetap lemah pada tahun 2021 karena investor mengurangi permintaan USD sebagai safe-haven, dan karena The Fed akan menjaga suku bunga rendah saat ini untuk mendorong inflasi kembali ke tingkat rata-rata 2%.

Kami melihat situasi pasar saham global saat ini cukup kondusif, didorong oleh proyeksi pemulihan ekonomi yang membaik, kebijakan moneter yang akomodatif, distribusi vaksin COVID-19 yang sejauh inilancar, dan juga era reflasi yang telah dimulai.

Pandangan konstruktif kami dapat terlihat lewat posisi overweight terhadap AS dan Asia ex-Japan. Dari segi sektoral, kami cenderung lebih menyukai finansial dan industrial, dan masih mempertahankan overweight juga terhadap sektor properti, industri dasar, dan energi.

Namun, jalur pemulihan sendiri tidak akan terlalu mulus, seiring dengan masih adanya beberapa ketidakpastian di pasar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini