JAKARTA - Kembangkan produksi amonia biru di Indonesia, PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) melalui anak usahanya PT Panca Amara Utama (PAU) menggadeng kerjasama Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (JOGMEC), Mitsubishi Corporation ("MC") dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Nantinya, lewat kerjasama tersebut perseroan berencana menggunakan teknologi carbon capture utilization and storage (CCSU) untuk memproduksi amonia biru di pabrik amonia di Banggai Sulawesi Tengah.
Presiden Direktur & Chief Executive Officer ESSA, Vinod Laroya dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, pihaknya terus berkomitmen berinvestasi dalam pengembangan energi untuk masa depan yang berkelanjutan. “Kami merasa terhormat dapat bekerja sama dengan para mitra yang mempunyai rekam jejak yang kuat serta komitmen yang sama terhadap kelestarian lingkungan,”ujarnya mengutip neraca.
Baca juga: Lepas 1,4 Miliar Saham, ESSA Segera Gelar Private Placement
Disampaikannya, pabrik ammonia Banggai adalah pabrik pertama di dunia yang menggunakan teknologi ammonia terbaru dan menjadikan Indonesia terdepan dalam produksi amonia. Melalui amonia biru, perseroan berharap dapat membuka jalan bagi Indonesia menjadi yang terdepan dalam menyediakan bahan bakar masa depan. Asal tahu saja, amonia saat ini banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk, plastik, dan bahan kimia di seluruh dunia.
Dalam beberapa tahun terakhir, peran amonia sebagai bahan bakar masa depan telah berkembang pesat karena kandungan hidrogennya yang tinggi, nol emisi CO2 pada saat pembakaran, serta pengiriman logistik yang aman. Sebagai informasi, PT Surya Esa Perkasa Tbk memiliki katalis positif untuk menopang kinerja keuangan, yaitu berlanjutnya peningkatan permintaan pupuk dan amoniak di tengah kenaikan produksi pangan. Perseroan juga didukung oleh refinance utang, sehingga fleksibilitas keuangan menjadi lebih baik.
Baca juga: Ganti Jabatan, Garibaldi Thohir Akan Jadi Dirut Surya Esa Perkasa
Analis Trimegah Sekuritas, Hasbie dan Willinoy Sitorus dalam risetnya pernah bilang, Surya Esa mampu menjaga kas internal tetap positif selama masa pandemi, apalagi setelah perseroan meraup dana Rp 184 miliar dari penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non- HMETD) atau private placement. Saham-saham tersebut diserap oleh pemegang saham perseroan.
Surya Esa juga berniat menerbitkan obligasi global sebesar US$ 650 juta untuk membayar utang anak usahanya, PT Panca Amara Utama (PAU), kepada IFC. Dana tersebut juga bakal dimanfaatkan untuk modal kerja perseroan. “Aksi ini akan memberikan ruang bagi perseroan untuk memperkuat neraca keuangan dan mengatur fleksibilitas utang,” tulis Hasbie dan Willinoy.
Secara operasional, berlanjutnya subsidi global untuk produksi pangan akan berdampak positif terhadap permintaan pupuk maupun amoniak untuk sektor pertanian.
(Fakhri Rezy)