Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Karyawan Garuda Protes Harga Tes PCR Lebih Mahal dari Tiket, Cek 5 Faktanya

Tim Okezone , Jurnalis-Sabtu, 14 Agustus 2021 |05:31 WIB
Karyawan Garuda Protes Harga Tes PCR Lebih Mahal dari Tiket, Cek 5 Faktanya
Karyawan Garuda Protes Tes PCR Lebih Mahal dari Tiket (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Mahalnya harga tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di Indonesia dikeluhkan Serikat Bersama Karyawan Garuda Indonesia Bersatu (Sekber). Bahkan, pihaknya menyebut harga PCR lebih mahal dari tiket pesawat.

Selain itu para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta agar harga PCR diturunkan seperti di India. Sebagai perbandingan, harga PCR di Indonesia sekira Rp900.000, sementara di India harga PCR hanya Rp97.000.

Berikut fakta-fakta seperti dirangkum Okezone, Jakarta, Sabtu (13/8/2021).

 

1. Syarat Perjalanan

Pemerintah melonggarkan syarat perjalanan bagi penumpang pesawat domestik Jawa-Bali. Dalam ketentuannya, penumpang boleh menggunakan dokumen tes antigen dengan keterangan negatif H-1 sebelum keberangkatan.

Syarat tersebut menggantikan ketentuan sebelumnya, di mana penumpang wajib menunjukkan hasil tes negatif tes polymerase chain reaction (PCR). Namun, dokumen tes antigen harus disertakan sertifikat vaksin Covid-19 dosis kedua.

Syarat tersebut, ditetapkan dalam peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 4, Level 3, dan Level 2 Coronavirus Disease 2019 di Wilayah Jawa dan Bali.

2. Karyawan Garuda Protes

Serikat Bersama Karyawan Garuda Indonesia Bersatu (Sekber) menilai subjek hukum beleid tersebut seyogyanya juga menyasar penumpang yang baru mengantongi sertifikat vaksin dosis pertama.

Sebab, PCR sebagai salah satu syarat perjalanan untuk penumpang yang baru divaksin dosis pertama tercatat mahal. Bahkan, lebih mahal dari harga tiket pesawat itu sendiri.

Koordinator Sekber Garuda Indonesia Tomy Tampatty menyebut, pemerintah perlu mempertimbangkan kembali aturan yang baru saja diterbitkan tersebut.

"Kami sangat berharap pemerintah meninjau pemberlakuan PCR terhadap penumpang pesawat udara. kalau PCR-nya fungsi mendeteksi Covid sama dengan antigen, kenapa terjadi perbedaan antara penumpang pesawat udara dengan moda transportasi lainnya, dan ini cukup tinggi harganya malah PCR lebih tinggi dari harga tiket," ujar Tomy saat ditemui di kawasan Kementerian BUMN.

3. Bikin Jumlah Penumpang Turun

Menurutnya, kebijakan yang tak seimbang menjadi faktor lain menurunnya penumpang pesawat.

"Ditambah juga memang kondisi Covid, kami sangat berharap itu ditinjau kembali," katanya.

 

4. Pengusaha Minta Harga Tes PCR Diturunkan

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani meminta pemerintah untuk menurunkan tarif Tes PCR. Menurutnya, tarif tes PCR akan meningkatkan testing covid-19 untuk mencegah penularan COVID-19.

“Selain pelonggaran pada masa PPKM, penekanan kasus covid pun ini dinilai penting untuk meningkatkan testing dan mencegah penularan yang lebih tinggi di masyarakat, salah satunya dengan tes PCR,” kata Hariydi saat dihubungi MNC Portal Indonesia.

5. Harga Tes PCR di India Rp97.000

Dirinya membandingkan harga tes PCR Indonesia dengan India. Dia membandingkan efektivitas akurasi dari antigen bisa diturunkan tarifnya seperti di yang sudah dilakukan di India.

“Pakai PCR kan tarifnya masih Rp700 ribuan di sini. Di India sudah mengeluarkan kebijakan di Agustus itu cuma 500 rupee atau Rp97 ribu saja,” paparnya.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement