Share

Bagai Makan Buah Simalakama Dukung AS sebagai Sekutu, Ekspor Australia Merana Diberangus China

Opini, Jurnalis · Selasa 16 November 2021 11:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 16 320 2502488 bagai-makan-buah-simalakama-dukung-as-sebagai-sekutu-ekspor-australia-merana-diberangus-china-XgbFag1qEd.jpg Perang Dagang China-Australia (Foto: Reuters)

JAKARTA - Kerja sama dan konflik, adalah dua hal yang lumrah terjadi dalam sistem politik internasional. Di antara sekian banyak fenomena yang mewarnai hubungan internasional akhir-akhir ini, konflik antara Australia dan China adalah isu yang paling menguras perhatian dunia internasional.

Hal itu seiring dengan mulai digelarnya kasus sengketa perniagaan kedua negara tersebut di World Trade Center (WTO) saat ini. Ada beberapa kasus yang diadukan antara lain penerapan anti dumping terhadap seumlah komoditas ekspor Australia antara lain jelai (gandum), anggur, dan terbaru adalah batubara.

Australia menuding China telah melanggar perjanjian internasional dan perjanjian bilateral perdagangan bebas yang telah disepakati oleh kedua negara pada 2015 silam.

Dengan merusak aturan perdagangan yang disepakati tersebut, China dipandang Australia juga merusak sistem perdagangan multilateral yang diandalkan oleh semua anggota WTO. Namun demikian, Australia tetap berharap China dapat menjadi mitra dagangnya mengingat China yang sedang berkembang pesat juga mendapatkan keuntungan dari harta karun sumber daya alam Australia.

Selama ini, China mengimpor sejumlah barang dari Australia seperti jelai (gandum), biji barley, anggur, daging merah, lobster, kayu gelondongan, hingga batubara serta lainnya.

Baca Juga: Menhub Minta Pelaku Logistik Manfaatkan Perang Dagang AS-China

Kebijakan China yang telah memukul habis-habisan komoditas ekspor mereka selama 18 bulan terakhir tentu saja merugikan Australia yang di didalamnya terdapat warganya yang bermata pencaharian sebagai petani, nelayan, peternak dan pelaku ekspor lainnya yang selama beberapa dekade meraup keuntungan dari hasil usaha mereka. Sebaliknya, China sendiri bersikukuh bahwa kebijakan yang ditempuhnya adalah cara terbaik demi melindungi kepentingan nasionalnya yaitu merupakan bentuk tanggung jawab terhadap industri dan konsumen domestiknya.

Sehingga, menurut China tidak ada yang salah dari cara-cara yang mereka tempuh, semuanya dalam koridor hukum yang sah. Bahkan, China menuding kalau Australia sedang memainkan peran sebagai korban playing victim.

Kesal dengan sikap keras kepala China, puncaknya, Australia pun mengadukan China ke lembaga perdagangan internasional WTO karena upaya negosiasi yang ditawarkan Australia ditanggapi dingin oleh China. Australia mengklaim sanksi atas komoditas ekspornya yang diberlakukan China didasari semata atas intevensi politik negara tersebut.

Sengketa niaga kedua negara ini bermula ketika China menerapkan tarif bea masuk barang-barang impor dari Australia dengan angka yang gila-gilaan. Misalnya, Beijing menetapkan tarif antidumping dan antisubsidi 80,5% terhadap jelai Australia pada Mei lalu, setelah mengklaim bahwa pertanian jelai mendapat subsidi besar dari pemerintah Australia.

Nasib serupa juga berlaku terhadap wine yang terkena tarif setinggi 218 persen. Akibatnya ekspor wine Australia turun dari AU$1,1 miliar atau setara AU$823 juta menjadi sekitar AU$20 juta. Itulah sebabnya Australia, melalui Tony Battaglene, kepala eksekutif Australian Grape & Wine mengadukan perlakuan China tersebut ke WTO.

Data IMF menyebutkan bahwa China merupakan pasar strategis bagi Australia bahkan menempati posisi teratas ekspor Australia dengan nilai transaksi perdagangan bernilai US$ 104 miliar pada 2019. Sehingga, wajar kemudian jika Australia uring-uringan atas keputusan sepihak yang dilakukan China karena dampaknya dapat melumpuhkan ekonomi Australia. Risiko tidak main-main karena sekitar 6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Australia saat ini berasal dari ekspor ke China.

Peliknya, keran komunikasi antara Canberra dan Beijing pun mampet di tengah situasi politik yang kian panas gara-gara sejumlah keputusan politik Australia dalam memberi dukungan terhadap sekutunya yaitu AS yang merupakan rival China. Seperti kita ketahui, tensi politik dan dagang China dengan AS juga terus memburuk dari waktu ke waktu seiring kekalahan perang dagang AS sejak 2008.

Buntut Bela Sekutu, Ausltralia Jadi Mati Kutu Secara politis posisi Australia memang dilematis alias bagaikan makan buah si malakama. Di satu sisi kebijakan politik luar negeri harus seiring sejalan dengan sang negara sekutu sebagai bagian dari negara persemakmuran apalagi belum lama ini Australia secara resmi ikut serta dalam AUKUS, sementara di sisi lain hubungan bilateral dengan China juga sangat menguntungkan negeri Kanguru itu.

Baca Juga: RI Kebanjiran Pesanan Produk Berkat Perang Dagang

Mengingat China merupakan lahan basah bagi pasar sejumlah komoditas ekspor Australia. Bagai Makan Buah Simalakama Dukung AS sebagai Sekutu, Ekspor Australia Merana Diberangus China.

Adapun kebijakan politik luar negeri Australia yang membuat China meradang sudah dimulai sejak 2018 lalu, ketika Australia menolak pembangunan jaringan 5G yang digagas Huawai Technologies Co. perusahaan telekomunikasi raksasa milik China yang lebih dulu digembosi AS dengan tudingan bahwa China melakukan aksi spionase dalam rangka memenangkan persaingan dagang guna memenuhi ambisinya sebagai negara superpower dunia.

Tak berhenti di situ, lagi-lagi China dibuat geram dengan sikap politik luar negeri Australia yang ikut-ikutan AS dan Uni Eropa untuk mengusut transparansi asal-usul penyebaran Covid-19 yang narasinya terlanjur beredar ke seluruh penduduk dunia bahwa virus mematikan tersebut berasal dari Wuhan, China.

Belum lagi keberpihakan kecaman Australia terhadap pelanggaran HAM berat yang dilakukan China terhadap suku minoritas Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang.

Demikian pula sikap keberpihkan Australia terhadap AS dalam konflik Laut China Selatan. Australia sendiri memang resah dengan hegemoni China di kawasan yang merupakan jalur perdagangan Australia ke negara-negara Asia lainnya.

China menyadari betul hal itu, sehingga tak menunggu waktu lama, langsung tancap gas menerapkan proteksi dengan menerapkan kebijakan antidumping terhadap komoditas ekspor Australia dengan memberlakukan tarif bea impor yang tidak masuk akal bagi mitranya tersebut.

Di tengah Australia yang kalang kabut karena kehilangan pasar strategisnya, China dengan entengnya mengalihkan impor batu-baranya dari negara lain, salah satunya dari Rusia, negara sekutu China yang merupakan kawan sehaluan sebagai negara berideologi komunis. Sinisnya lagi, China memberlakukan impor batubara terhadap semua negara tanpa batasan atau restriksi kecuali terhadap satu negara, yaitu Australia!

Bak kejatuhan durian runtuh, jumlah ekspor batubara Rusia mencapai 3,7 juta ton pada September yang baru lalu. Angka ini naik 28 persen dibanding Agustus sebelumnya dan naik 230 persen dibanding September tahun lalu. Selain mengambil posisi yang sebelumnya ditempati Australia, kebutuhan dalam negeri China memang sedang meningkat terhadap energi fosil tersebut seiring krisis energi yang mereka alami.

Demikian pula halnya dengan komoditas anggur, layaknya pasangan kekasih, China begitu cepat move on, seolah tanpa beban China melepaskan begitu saja ketergantungannya dari Australia yang masih dilanda broken heart. Hal itu ditunjukkan dengan langsung gercep membudidayakan anggur sebagai bahan utama wine di kawasan Provinsi Ningxia.

Tidak berhenti di situ, China bahkan berkoar-koar bahwa bisa memproduksi wine sendiri dengan kualitas yang lebih jauh mengungguli kualitas wine Australia. Bagaimana tidak, China mengklaim dapat memproduksi wine dengan kualitas sekelas wine buatan Bordeaux dari Perancis yang dikenal sebagai produsen wine terbaik di dunia. Al hasil, atas keputusan tersebut, Australia pun semakin dibuat gigit jari.

Kemarahan raksasa Asia itu semakin tak tertahankan manakala Australia ikut-ikutan mendukung sekutunya menyokong upaya pemisahan diri Taiwan dari China. Seperti diketahui, Taiwan merupakan salah satu provinsi otonom di bawah mainland China yang terus berusaha untuk membelot, sebaliknya China mati-matian mempertahankannya.

Itulah sebabnya, dengan tanpa tedeng aling-aling negara yang dipimpin Xi Jinping itu mengeluarkan ultimatum bahwa pihakya siap tak segan-segaan siap kapan saja mengarahkan rudal balistik ke salah satu satu negara di Selatan-selatan tersebut.

Dari sikap ini, dapat kita lihat betapa China sedang mengirimkan sinyalmen kuat bagi negara manapun, khususnya di kawasan Indopasifik yang mengusik kepentingan politik negara ginseng itu, maka harus siap-siap adu nyali untuk menanggung segala akibatnya.

Sementara itu, gerakaan boikot produk China dari masyarakat Australia juga terus menggema sebagai bentuk tindakan balasan atas rentetan kebijakan China. Dulu mesra, kini membara. Ya, begitulah DNA sistem politik internasional maupun nasional sama saja.

Tak ada kawan maupun lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan. Akankah keputusan WTO dapat meredakan gejolak yang kini dihadapi Australia dan China? Tampaknya kita masih harus memberi sedikit waktu bagi tim panel WTO bekerja, setidaknya 6 bulan ke depan.

Penulis: Yaomi Suhayatmi

 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini