Tegas! Presiden Jokowi Tidak Ingin Ada Ekspor Bahan Mentah

Michelle Natalia, Jurnalis · Rabu 24 November 2021 14:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 24 320 2506684 tegas-presiden-jokowi-tidak-ingin-ada-ekspor-bahan-mentah-5ZN59pw3yf.jpg Presiden Jokowi (Foto: Setkab)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan bahwa transformasi ekonomi,tidak boleh berhenti. Bahkan reformasi struktural juga tidak boleh berhenti.

"Hal ini dikarenakan akan menjadi sebuah basic setelah kita memiliki yang namanya infrastruktur. Tidak boleh lagi meskipun ada transisi, tidak boleh ada lagi kita mengekspor bahan-bahan mentah, raw materials need to stop, udah di-stop," ujar Jokowi dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) secara virtual di Jakarta, Rabu (24/11/2021).

Baca Juga: Pandemi Hampir 2 Tahun, Jokowi: Berimbas Kemana-mana dan di Luar Perkiraan!

Jokowi menjelaskan bahwa hal ini sudah dimulai dari pemberhentian ekspor nikel, dan mungkin tahun depan dengan kalkulasi dan hitung-hitungan, akan memberhentikan ekspor bauksit.

"Tahun depannya lagi, hitung-hitungan bisa stop ekspor tembaga, tahun depannya lagi bisa stop ekspor timah. Kita ingin agar bahan-bahan mentah semuanya diekspor dalam bentuk barang setengah jadi atau barang jadi," tegas Jokowi.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Ada Bendungan Karolle, Petani Bisa Tanam Padi 2 Kali

Karena, yang diinginkan pemerintah adalah nilai tambah (added value). Misalnya besi baja, pada saat masih dibolehkan ekspor nikel, tiga atau empat tahun lalu masih berada di angka USD1,1 miliar. "Tahun ini perkiraan saya sudah meloncat ke angka USD20 miliar, karena stok nikel dari kira-kira USD15 triliun melompat menjadi USD280 triliun," ungkap Jokowi.

Hal ini, menurut dia, akan memperbaiki neraca perdagangan, neraca pembayaran, dan neraca transaksi berjalan. Di 2018, neraca perdagangan masih defisit minus USD18,41 miliar. Sekarang, baru di bulan Oktober 2021, menjadi minus USD1,5 miliar, khusus ke China.

"Yang dulu kita defisit, insya Allah tahun depan kita sudah surplus dengan China. Artinya apa, barang kita akan lebih banyak masuk ke sana dengan nilai yang lebih baik dari sebelumnya. Ini baru urusan nikel distop, kalau nanti bauksit distop, nilainya juga kurang lebih akan sama, kita akan melompat ke angka USD20-30 miliar," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini